Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Gap Literasi dan Inklusi Asuransi Masih Menganga, Gini Cara OJK Tutup Gap Asuransi

        Gap Literasi dan Inklusi Asuransi Masih Menganga, Gini Cara OJK Tutup Gap Asuransi Kredit Foto: OJK
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Otoritas Jasa Keuangan (OJK) catatkan kesenjangan literasi dan inklusi asuransi masih lebar bedasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025.

        Tercatat, indeks literasi asuransi mencapai 45,45%, sementara indeks inklusi baru mencapai 28,50 persen. Melihat data tersebut, Kepala Eksekutif Pengawas PPDP OJK, Ogi Prastomiyono, menegaskan pentingnya edukasi sejak dini untuk mempersempit kesenjangan.

        “Risiko merupakan bagian dari kehidupan. Yang membedakan adalah kesiapan dalam mengelolanya. Asuransi hadir sebagai instrumen perlindungan agar masyarakat tidak menghadapi risiko sendirian ketika hal yang tidak diharapkan terjadi,” ujar Ogi dalam keterangannya, Selasa (17/2/2026).

        Menurutnya, gap antara pemahaman dan pemanfaatan produk asuransi menunjukkan perlunya edukasi berkelanjutan, khususnya kepada generasi muda sebagai calon pengambil keputusan keuangan di masa depan.

        Di sisi lain, Rektor Universitas Jember, Iwan Taruna, menyebut kegiatan literasi tersebut relevan di tengah ketidakpastian ekonomi.

        “Kegiatan ini sangat strategis di tengah dinamika ekonomi yang sangat fluktuatif, baik nasional maupun global. Sektor keuangan berperan vital untuk mendorong pertumbuhan serta melindungi masyarakat dari berbagai isu perekonomian,” ujarnya.

        Baca Juga: OJK Beri Warning Soal Jual Beli Rekening Bank di Medsos, Ilegal dan Berisiko Pidana

        Melalui gelaran panem diskusi dengan tema "Asuransi, Generasi Muda, dan Kontribusi bagi Negeri", Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia) turut mendukung program literasi OJK itu.

        Plt. Ketua Dewan Pengurus AAJI, Albertus Wiroyo, mengatakan kolaborasi dengan kampus menjadi strategi jangka panjang industri.

        “AAJI memandang kolaborasi dengan perguruan tinggi sebagai investasi jangka panjang. Masa depan industri asuransi jiwa sangat ditentukan oleh generasi muda, baik sebagai pengguna layanan maupun sebagai talenta profesional yang akan menggerakkan industri ke depan,” ujar Albertus.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Azka Elfriza
        Editor: Amry Nur Hidayat

        Bagikan Artikel: