Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        PBB Soroti Amerika Serikat (AS), Kasus Jeffrey Epstein Bisa Jadi Kejahatan Kemanusiaan

        PBB Soroti Amerika Serikat (AS), Kasus Jeffrey Epstein Bisa Jadi Kejahatan Kemanusiaan Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        United Nations Human Rights Council (PBB) menyoroti kasus terkait Jeffrey Epstein di Amerika Serikat (AS). Jutaan dokumen terkait kasus itu dinilai menunjukkan adanya jaringan kriminal global yang melakukan pelanggaran serius hingga berpotensi memenuhi unsur kejahatan terhadap kemanusiaan.

        Pakar United Nations Human Rights Council menyatakan ada unsur kejatahan terhadap kemanusiaan dalam kasus terkait Jeffrey Epstein. Mereka menilai bahwa kejahatan tersebut dilakukan dalam konteks keyakinan supremasi, rasisme, korupsi serta misogini ekstrem.

        Baca Juga: Epstein Files Makan Korban Banyak Elit Politik di Eropa, Mundur Satu-Satu

        “Begitu parah skala, sifat, karakter sistematis dan jangkauan transnasional dari kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan ini, sehingga sebagian di antaranya secara masuk akal dapat memenuhi ambang hukum sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan,” ujar United Nations Human Rights Council, dikutip dari Reuters.

        Para pakar menilai tindakan yang dilakukan mencerminkan komodifikasi dan dehumanisasi perempuan dan anak perempuan, dengan skala dan pola yang sistematis serta lintas negara.

        Mereka menegaskan bahwa tuduhan yang terkandung dalam dokumen tersebut memerlukan penyelidikan independen, menyeluruh dan tidak memihak, termasuk penyelidikan mengenai bagaimana kejahatan tersebut dapat berlangsung selama bertahun-tahun tanpa terungkap sepenuhnya.

        PBB juga mengungkapkan keprihatinan serius atas kegagalan kepatuhan dan penyensoran (redaksi) yang keliru dan menyebabkan informasi sensitif para korban terekspos. 1.200 korban lebih hingga kini telah teridentifikasi dalam dokumen yang dirilis ke publik oleh AS.

        Baca Juga: Zelenskiy: Ukraina Tidak Akan Pernah Memaafkan Amerika Serikat (AS)

        “Keengganan untuk membuka informasi secara penuh atau memperluas penyelidikan telah membuat banyak penyintas merasa kembali mengalami trauma dan menjadi korban dari apa yang mereka sebut sebagai ‘gaslighting institusional’,” kata United Nations Human Rights Council.

        Sebelumnya, United States Department of Justice mengungkap hubungan sejumlah tokoh berpengaruh dalam bidang politik, keuangan, akademik dan bisnis dengan Epstein. Ia terseret kasus perdagangan seks anak di bawah umur.

        Ia kemudian ditemukan tewas tergantung di sel tahanannya. Otoritas Amerika Serikat (AS) menyatakan kematiannya sebagai bunuh diri, meski kasus tersebut terus memicu kontroversi global.

        Baca Juga: Efek Negosiasi Iran-Amerika Serikat, Harga Minyak Rabu Pagi (18/2) Jadi Segini

        Sosok Epstein sendiri merupakan sosok yang misterius karena tak banyak hal yang diketahui terkaitnya. Dokumen yang rilis menunjukkan bahwa sejumlah perempuan muda yang pernah berhubungan dengannya banyak yang berasal dari Rusia. Berdasarkan hal itu, ia dipercaya bekerja dengan mengumpulkan materi blackmail kalangan elite dan tokoh berkuasa untuk Rusia.

        Meski demikian, berbagai media dan blogger juga berspekulasi bahwa sang penjahat mungkin bekerja untuk badan intelijen lain, termasuk Mossad Israel atau Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA). Salah satunya adalah pengakuan seorang informan anonim dari Federal Bereua of Investigation (FBI).

        Baca Juga: Negosiasi Tak Hasilkan Kesepakatan, Ancaman Perang Iran-Amerika Serikat (AS) Masih Terbuka

        Namun hingga kini, belum ada bukti definitif yang dipublikasikan oleh organisasi media besar yang membuktikan bahwa ia bekerja untuk badan intelijen mana pun.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: