Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Outlook Moody’s Negatif, Ekonom Wanti-wanti Lonjakan Bunga Utang

        Outlook Moody’s Negatif, Ekonom Wanti-wanti Lonjakan Bunga Utang Ilustrasi: Wafiyyah Amalyris K
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Ekonom Senior Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menilai perubahan outlook peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif berpotensi mendorong kenaikan imbal hasil (yield) surat utang negara. Pasalnya, dalam kondisi peringkat saat ini saja, bunga obligasi pemerintah Indonesia sudah tergolong tinggi.

        “Ini sekarang baru outlook-nya yang turun, sehingga makin tinggi bunganya, makin berat beban APBN untuk membayar bunga,” jelas Wijayanto dalam diskusi Prospek Arah Pasar Modal Indonesia Pasca MSCI dan Moody’s yang digelar secara daring, Rabu (18/2/2026).

        Ia mengkhawatirkan apabila peringkat kredit Indonesia benar-benar diturunkan, beban bunga utang pemerintah akan semakin berat. Kenaikan yield secara otomatis membuat pemerintah harus membayar bunga lebih mahal kepada investor, sehingga ruang fiskal kian terbatas.

        Menurut Wijayanto, penurunan outlook maupun peringkat kredit juga meningkatkan risiko terjadinya sovereign selling. Dalam kondisi tersebut, investor cenderung melepas aset keuangan domestik, mulai dari obligasi negara, obligasi korporasi, hingga saham.

        Baca Juga: Pemerintah Dinilai Abai Terhadap Peringatan Ekonom, Baru Respons Setelah Sorotan MSCI & Moody's

        Ia menjelaskan, peringkat kredit korporasi pada umumnya tidak dapat melampaui peringkat negara asalnya. Dengan demikian, penurunan peringkat negara akan langsung menekan seluruh aset keuangan domestik.

        “Karena sovereign selling tadi, tidak mungkin suatu korporasi mempunyai rating lebih tinggi daripada negara,” imbuhnya.

        Dampak lanjutan dari kondisi tersebut bersifat berantai. Untuk kembali menarik minat investor, imbal hasil yang ditawarkan harus lebih tinggi. Situasi ini mendorong kenaikan cost of fund atau biaya dana, yang pada akhirnya meningkatkan biaya berbisnis di dalam negeri.

        “Dampaknya adalah cost of fund menjadi lebih tinggi, sehingga berbisnis di Indonesia menjadi makin mahal dan makin sulit,” jelasnya.

        Baca Juga: Tak Gubris Warning Moody’s, Prabowo Tegaskan MBG Jadi Motor Ekonomi Akar Rumput

        Sebelumnya, Moody’s Ratings secara resmi mengubah outlook peringkat kredit Pemerintah Indonesia dari stabil menjadi negatif. Lembaga pemeringkat tersebut menyoroti menurunnya kepastian dan konsistensi kebijakan yang dinilai berisiko melemahkan efektivitas kebijakan serta kredibilitas institusional pemerintah.

        Meski demikian, Moody’s tetap mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level Baa2 atau investment grade.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dwi Aditya Putra
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: