Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Investor Diperkirakan Bakal Kepincut Sama Obligasi Negara Seri Fixed Rate, Ini Sebabnya

Investor Diperkirakan Bakal Kepincut Sama Obligasi Negara Seri Fixed Rate, Ini Sebabnya Kredit Foto: Freepik
Warta Ekonomi, Jakarta -

Sejumlah obligasi negara seri Fixed Rate (FR) diperkirakan akan menarik perhatian investor pada perdagangan hari ini yang dipengaruhi oleh sentimen dalam negeri maupun luar negeri. 

Head of Fixed Income Research BNI Sekuritas Amir Dalimunthe mengatakan, diperkirakan seri FR0040, FR0084, FR0047, FR0054, FR0091, FR0074, FR0068, FR0072, FR0093, FR0050, dan FR0057 akan menarik bagi investor. Rekomendasi ini mempertimbangkan kondisi pasar saat ini serta valuasi yield curve

Dari dalam negeri, yield obligasi pemerintah Indonesia masih menunjukkan tekanan ke atas pada hari Kamis, dengan yield curve 10-tahun (GIDN10YR) naik 3bp dari hari sebelumnya menjadi 7,20%, melampaui batas atas kisaran perkiraan mingguan BNI Sekuritas sebesar 6,87% - 7,08%. 

Baca Juga: Biayai Proyek TRSS-2, Pemerintah Utang US$150 Juta ke IsDB

Amir menyampaikan, sejak akhir Mei GIDN10YR telah mencatat peningkatan 16bp, sejalan dengan peningkatan 19bp pada yield curve 10-tahun UST dan peningkatan 4bp pada CDS 5-tahun Indonesia. 

“Saat ini, yield SUN mungkin telah memasuki entry level yang menarik dan Erupean Central Bank (ECB) juga telah mengumumkan panduan yang lebih jelas tentang sikap kebijakannya. Namun, investor mungkin masih perlu mengkaji data inflasi Amerika Serikat (AS) yang akan dirilis hari ini,” jelas Amir dalam risetnya, Jumat (10/6). 

Baca Juga: Utang Negara Indonesia Rp7.000 Triliun, Luhut: Masih Kecil

Lebih lanjut, dari global, European Central Bank akan mengakhiri pelonggaran kuantitatif pada 1 Juli, kemudian menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada 21 Juli. Kemudian akan naik lagi pada 8 September dan melakukan langkah yang lebih besar, kecuali prospek inflasi membaik sementara itu.

ECB merilis perkiraan baru yang menaikkan inflasi tahun ini menjadi 6,8% dari sebelumnya 5,1% dan memangkas prospek pertumbuhannya menjadi 2,8% dari 3,7% karena harga energi dan pangan yang sangat tinggi.

Bank sentral tersebut melihat inflasi sebesar 3,5% pada tahun 2023 dan 2,1% pada tahun 2024 sementara pertumbuhan PDB riil tahunan sebesar 2,1% pada tahun 2023 dan 2,1% pada tahun 2024.

Adapun, yield curve US Treasury (UST) sedikit bergeser ke atas dari posisinya sehari sebelumnya, dengan yield curve UST 2-tahun naik 3bp menjadi 2,81% sementara yield curve UST 10-tahun naik 2bp menjadi 3,04%. Indeks saham utama AS jatuh menjelang data inflasi. Nasdaq Composite, S&P500, dan Dow Jones Industrial Average masing-masing turun 2,75%, 2,38%, dan 1,94%.

Baca Juga: Kisah Agen BRILink Bantu Angkat Ekonomi Keluarga dan Masyarakat di Banjarmasin

Penulis: Annisa Nurfitriyani
Editor: Annisa Nurfitriyani

Advertisement

Bagikan Artikel: