Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Airlangga Ungkap Keistimewaan ART Indonesia–AS Dibanding Negara Lain

        Airlangga Ungkap Keistimewaan ART Indonesia–AS Dibanding Negara Lain Kredit Foto: Sekretariat Presiden
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Kesepakatan dagang Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat disebut memiliki karakter berbeda, dibanding perjanjian serupa Washington dengan negara lain.

        Pemerintah menilai ada empat faktor yang membuat posisi Indonesia dalam kesepakatan ini lebih kuat.

        Penandatanganan ART dilakukan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump di Washington DC pada 19 Februari 2026.

        Momentum tersebut berlangsung dalam rangkaian kunjungan kerja Prabowo ke Amerika Serikat untuk menegosiasikan tarif, investasi, dan perluasan akses pasar.

        Baca Juga: Prabowo Tegaskan Kepastian Hukum dan Perkuat Kepercayaan Pasar di Depan Investor Global

        Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut, tingkat penandatanganan menjadi pembeda utama.

        "Banyak negara juga yang perjanjian ini tidak ditandatangani oleh kepala negara, tetapi di level menteri."

        "Nah, jadi khusus mengenai Indonesia, apalagi hari ini kita ketahui jumlah kepala negara yang hadir juga banyak."

        "Tetapi yang diberikan kesempatan untuk berbicara mengenai agreement dan bilateral hanya Presiden Indonesia, Presiden Prabowo," ungkap Airlangga dalam konferensi pers di Washington DC.

        Penandatanganan di tingkat kepala negara memberi bobot politik dan diplomatik lebih tinggi terhadap dokumen tersebut.

        Hal ini juga mencerminkan posisi Indonesia dalam percakapan bilateral yang lebih luas, termasuk isu tarif strategis.

        Baca Juga: Tarif 0% AS Buka Peluang Ekspansi Emiten RI dan Dongkrak Margin

        Keistimewaan kedua berkaitan dengan substansi negosiasi yang dinilai mengakomodasi kepentingan Indonesia.

        Airlangga mengungkapkan, mayoritas dokumen yang diajukan Indonesia diterima dalam pembahasan akhir.

        "90 persen daripada dokumentasi yang dikirim oleh Indonesia dipenuhi oleh Amerika."

        "Jadi usulannya Indonesia dipenuhi oleh Amerika," jelas Airlangga.

        Pernyataan itu menunjukkan tingkat penerimaan yang tinggi terhadap proposal teknis dan substansi yang diajukan pemerintah Indonesia.

        Aspek ketiga yang menjadi sorotan adalah ruang lingkup ART yang difokuskan pada kerja sama ekonomi.

        Baca Juga: Tarif 0% ke AS Jadi ngin Segar Industri Tekstil dan Peluang Perluasan Pasar Global

        Airlangga menjelaskan, sejumlah klausul non-ekonomi tidak dimasukkan dalam kesepakatan akhir.

        "Berbeda dengan berbagai perjanjian ART dengan negara lain, Amerika sepakat untuk mencabut pasal-pasal yang non-kerja sama ekonomi."

        "Antara lain terkait pengembangan reaktor nuklir, kebijakan Laut Cina Selatan, dan pertahanan serta keamanan perbatasan."

        "Sehingga murni ART kita adalah terkait perdagangan," paparnya.

        Dengan demikian, ART Indonesia–AS diposisikan sebagai perjanjian yang terpisah dari agenda geopolitik.

        Fokus utamanya tetap pada perdagangan dan investasi, tanpa mencampurkan isu pertahanan atau keamanan kawasan.

        Baca Juga: Demi Tarif Dagang, Indonesia Terpaksa Beli Bensin dari Amerika Serikat?

        Poin keempat menyangkut dinamika global, setelah Indonesia resmi bergabung dengan BRICS pada Januari 2025.

        Sebelumnya, sempat muncul wacana tambahan tarif 10 persen bagi anggota blok tersebut dari pihak Amerika Serikat.

        Airlangga menyatakan isu tersebut tidak lagi relevan dalam pembahasan ART.

        "Saya pikir ini sudah lewat, sudah tidak dibahas lagi yang terkait dengan tambahan ini, sehingga kita tidak pernah membahas terkait dengan BRICS," ujarnya.

        Pernyataan itu memberi kepastian Indonesia tidak menghadapi beban tambahan tarif yang sempat menjadi perhatian pelaku usaha.

        Kepastian tersebut dinilai penting dalam menjaga stabilitas hubungan dagang kedua negara.

        Baca Juga: Tarif Nol Persen Kedelai dan Gandum AS, Airlangga Pastikan Tak Picu Inflasi

        Dalam konteks kunjungan Prabowo ke AS, pembahasan ART menjadi bagian dari strategi memperluas akses pasar, dan memperkuat kerja sama investasi.

        Pertemuan bilateral dengan Trump juga membahas keseimbangan tarif dan peningkatan volume perdagangan.

        Secara keseluruhan, empat elemen tersebut membentuk karakter khusus ART Indonesia–AS.

        Level penandatanganan, penerimaan substansi, fokus ekonomi, dan kepastian bebas tarif tambahan menjadi kombinasi yang jarang ditemui dalam perjanjian serupa.

        Pemerintah menilai struktur ini mempertegas posisi Indonesia sebagai mitra dagang strategis di Asia Tenggara.

        Implementasi teknis ke depan akan menentukan seberapa besar dampak ART terhadap arus perdagangan dan investasi bilateral.

        Kerangka yang lebih terfokus dan minim isu non-ekonomi, ART diharapkan memberikan kepastian bagi pelaku usaha.

        Stabilitas kebijakan dan kepastian tarif menjadi faktor penting dalam mendorong ekspansi perdagangan kedua negara. (*)

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Wahyu Pratama
        Editor: Yaspen Martinus

        Bagikan Artikel: