Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Airlangga Ungkap Peluang Strategis Mineral Kritis dalam Kesepakatan Dagang Indonesia-AS

Airlangga Ungkap Peluang Strategis Mineral Kritis dalam Kesepakatan Dagang Indonesia-AS Kredit Foto: Sekretariat Presiden
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kesepakatan dagang Indonesia–Amerika Serikat dalam kerangka Agreement on Reciprocal Trade (ART) kini memasukkan pembahasan strategis terkait mineral kritis.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menekankan pentingnya sektor ini untuk pengembangan industri hilir dan transfer teknologi.

Menurut Airlangga, tujuan pemerintah adalah mendorong kolaborasi investasi dan penguatan kapasitas industri nasional di bidang mineral strategis.

"Mineral kritis terkait dengan industri mineral. Artinya, secondary process dan Indonesia terbuka untuk kerja sama investasi maupun teknologi, baik mineral kritis maupun rare earth,” ujarnya saat konferensi pers di Jakarta.

Negosiasi ini menjadi bagian dari agenda kunjungan Presiden Prabowo Subianto di Amerika Serikat, termasuk pertemuan bilateral dengan Presiden Donald Trump dan pembahasan tarif dagang serta investasi strategis. Kehadiran Prabowo di Washington D.C. memfasilitasi pembicaraan intensif tentang peluang industri hilir mineral.

Sektor mineral kritis yang dibahas mencakup nikel, bauksit, dan logam tanah jarang (rare earth elements), yang menjadi komoditas penting bagi teknologi tinggi, pertahanan, dan otomotif global. Pembahasan diarahkan untuk membuka akses investasi, membangun joint venture, dan memperkuat kapasitas pengolahan dalam negeri.

Airlangga menekankan bahwa kerja sama bukan sekadar ekspor, tetapi juga transfer teknologi dan pengembangan industri domestik. Hal ini sejalan dengan upaya Indonesia meningkatkan nilai tambah dari sumber daya mineral strategis yang dimiliki.

Diskusi terkait mineral kritis sebelumnya telah dilakukan oleh Danantara pada akhir 2025 dengan perusahaan AS untuk membuka peluang kerja sama business-to-business. Langkah ini dinilai sebagai bagian integral dari negosiasi ART yang lebih luas.

Halaman:

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Amry Nur Hidayat

Tag Terkait:

Bagikan Artikel: