Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        AI dan Geopolitik Membayangi, Begini Nasib Harga Bitcoin Hari Ini (25/2)

        AI dan Geopolitik Membayangi, Begini Nasib Harga Bitcoin Hari Ini (25/2) Kredit Foto: Unsplash/Kanchanara
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Harga bitcoin kembali mencoba bangkit pada perdagangan pagi hari di Rabu (25/2). Ia sebelumnya sempat tertekan tajam dalam beberapa hari terakhir akibat sentimen terkait kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

        Berdasarkan data Coinmarketcap, harga bitcoin berhasil naik kembali ke US$64.000. Sebelumnya aset kripto unggulan tersebut anjlok hingga mendekati US$62.000.

        Baca Juga: Penurunan Harga Bitcoin (BTC) Jadi Sorotan Miliarder: Manfaatkan, Beli Sekarang!

        Pemulihan harga bitcoin terjadi di tengah meningkatnya kehati-hatian investor global terhadap aset berisiko, menyusul tekanan dari dua faktor utama: perkembangan pesat kecerdasan buatan yang mengguncang model bisnis sektor teknologi serta ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

        Pergerakan bitcoin masih menunjukkan korelasi yang kuat dengan saham-saham teknologi. Dalam beberapa pekan terakhir, tekanan besar melanda sektor teknologi global akibat kekhawatiran bahwa adopsi akal imitasi dapat menggerus bisnis konvensional, termasuk layanan perangkat lunak dan konsultasi teknologi.

        Kondisi saham teknologi yang tertekan itu ikut menyeret bitcoin, yang selama ini kerap bergerak searah dengan saham teknologi berisiko tinggi.

        Namun, sentimen pasar sedikit membaik setelah sejumlah perusahaan besar mengumumkan kemitraan strategis dengan perusahaan pengembang dari AI. Langkah ini dipersepsikan pelaku pasar sebagai sinyal bahwa perusahaan-perusahaan lama masih memiliki ruang untuk beradaptasi, alih-alih tersingkir oleh disrupsi teknologi.

        Baca Juga: Investor Harap Waspada, Begini Penilaian Analis Soal Potensi Rebound Harga Bitcoin (BTC)

        Dari sisi geopolitik, kekhawatiran pasar juga mereda menyusul pernyataan dari Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Majid Takht-Ravanchi. Ia yang menyebut negaranya siap mengambil langkah apa pun yang diperlukan untuk mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat (AS).

        Pernyataan Majid Takht-Ravanchi membantu menurunkan spekulasi pasar terkait potensi serangan militer dalam waktu dekat, yang sebelumnya sempat memicu aksi jual pada aset-aset berisiko, termasuk bitcoin.

        Baca Juga: Bitcoin (BTC) Dinilai Sangat Tak Berguna: Tidak Punya Manfaat Nyata Seperti AI

        Meski demikian, pelaku pasar masih bersikap waspada. Volatilitas dinilai tetap tinggi seiring investor global terus mencermati perkembangan teknologi akal imitasi, arah kebijakan moneter serta dinamika geopolitik yang belum sepenuhnya mereda di Timur Tengah.

        Baca Juga: Khamenei Pusing, Iran Dihadapkan Protes Mahasiswa Hingga Ancaman Serangan Amerika Serikat (AS)

        Bagi Indonesia, pergerakan bitcoin saat ini mencerminkan fase konsolidasi yang rentan terhadap sentimen eksternal sehingga manajemen risiko tetap menjadi faktor kunci dalam menyikapi fluktuasi pasar kripto.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: