- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Ubah Sampah jadi Listrik, 24 Perusahaan Asing Berebut Proyek Danantara Senilai USD 600 Juta! Pemenang Siap Diumumkan
Kredit Foto: Sekretariat Presiden
Proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik atau waste to energy (WtE) di empat kota besar segera memasuki tahap akhir seleksi. Pengumuman pemenang tender dijadwalkan pada Maret 2026.
Badan Pengelola Investasi Danantara memastikan proses evaluasi telah berjalan sesuai ketentuan. Tahap pertama proyek ini mencakup Kota Denpasar, Bekasi, Bogor, dan Yogyakarta.
Direktur Investasi PT Danantara Investment Management, Fadli Rahman, menyebut pengumuman pemenang akan disampaikan langsung oleh CEO BPI Danantara, Roesan Roeslani.
Seleksi dilakukan mengacu pada Peraturan Presiden RI Nomor 109 Tahun 2025 tentang percepatan pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi.
“Pemenang adalah yang (kriterianya) sesuai dengan Perpres itu (Peraturan Presiden RI Nomor 109 Tahun 2025) yang memiliki kemampuan teknikal yang sangat baik, kemampuan finansial dan ekonomi yang sangat baik, dan juga risiko yang bisa termanage dengan baik," kata Fadli dikutip dari ANTARA, Kamis (26/2/2026).
Kriteria tersebut menjadi dasar utama dalam menentukan perusahaan terpilih di masing-masing kota.
Sebanyak 24 perusahaan internasional mengikuti proses seleksi tahap pertama ini. Komposisinya didominasi perusahaan asal China, disusul Jepang dan Prancis.
"Sebanyak 24 perusahaan internasional dari China, Prancis, Jepang, telah mengikuti seleksi dan mengikuti tender proyek WtE. Perusahaan internasional itu adalah 20 perusahaan dari China, 3 dari Jepang, dan satu dari Prancis," katanya.
Dari setiap lokasi, hanya satu perusahaan yang akan ditetapkan sebagai pemenang.
Perusahaan terpilih diwajibkan membentuk konsorsium dengan mitra domestik. Kolaborasi tersebut mencakup pengembangan proyek sekaligus penguatan kapasitas nasional.
Nilai investasi untuk setiap lokasi diperkirakan berkisar antara 150 juta hingga 170 juta dolar AS. Dengan empat kota pada tahap awal, total kebutuhan dana mencapai sedikitnya 600 juta dolar AS.
Skema pembiayaan dirancang dengan komposisi 70 persen investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI). Sementara itu, 30 persen sisanya berasal dari ekuitas Danantara.
Proyek ini diposisikan sebagai solusi atas persoalan kedaruratan sampah perkotaan. Di sisi lain, fasilitas WtE diharapkan memperkuat pasokan energi melalui konversi limbah menjadi listrik.
Aspek teknologi menjadi bobot penilaian terbesar dalam proses tender. Indonesia dinilai belum memiliki teknologi WtE yang memadai sehingga kemampuan teknis peserta menjadi faktor krusial.
Penilaian juga mencakup desain fasilitas, kualitas pembangunan, dampak lingkungan dan sosial, serta ketahanan finansial perusahaan. Evaluasi tersebut dilakukan untuk memastikan proyek berjalan berkelanjutan dalam jangka panjang.
Sebagai bagian dari persyaratan, perusahaan pemenang wajib melakukan transfer teknologi kepada Indonesia. Program pelatihan tenaga kerja juga menjadi bagian dari komitmen kerja sama.
"Tenaga kerja yang di-traning itu juga akan dikirim belajar ke negara asal perusahaan itu," ujar Fadli. Skema ini diharapkan mempercepat penguasaan teknologi pengolahan sampah di dalam negeri.
Baca Juga: Danantara Kolaborasi Kembangkan Pariwisata Lampung Selatan
Secara keseluruhan, Danantara menargetkan pembangunan fasilitas WtE di 33 kota. Setelah tahap pertama rampung, proses lelang untuk sembilan kota berikutnya direncanakan berlangsung setelah Lebaran 2026.
Partisipasi puluhan perusahaan global dan investasi ratusan juta dolar membuat proyek WtE menjadi bagian dari agenda strategis pengelolaan lingkungan dan energi nasional. Publik kini menantikan hasil seleksi yang akan menentukan arah transformasi sampah menjadi sumber listrik di empat kota tersebut.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: