Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        RI Waspadai Perang AS–Iran: Penutupan Selat Hormuz Ancam Pasokan Minyak Indonesia

        RI Waspadai Perang AS–Iran: Penutupan Selat Hormuz Ancam Pasokan Minyak Indonesia Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Pemerintah Republik Indonesia (RI) mewaspadai eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran, menyusul ancaman penutupan Selat Hormuz oleh Iran yang berpotensi mengguncang pasokan minyak Indonesia.

        Oleh sebab itu, Presiden Prabowo Subianto menggelar pertemuan mendadak dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (2/3/2026). Agenda tersebut membahas langkah mitigasi atas dampak ketegangan geopolitik di Timur Tengah terhadap stabilitas energi nasional.

        Baca Juga: Konflik Iran–AS Berpotensi Picu Gelombang Serangan Siber, ICSF: Indonesia Harus Siaga

        Bahlil menegaskan, antisipasi ini sangat krusial, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur vital distribusi minyak dunia. Jika terjadi gangguan, maka harga minyak global berpotensi melonjak dan pasokan energi Indonesia ikut terimbas.

        "Kita membahas kondisi terkini geopolitik, khususnya terkait penutupan Selat Hormuz di Iran. Ini adalah langkah antisipasi terhadap pasokan minyak dunia, karena bagaimanapun Indonesia masih melakukan impor sebanyak 1 juta barel per hari," ujar Bahlil, dikutip Selasa (3/3).

        Meskipun demikian, Bahlil memastikan pasokan bahan bakar minyak (BBM) nasional saat ini masih terkendali. "Untuk cadangan BBM, sejauh ini masih cukup untuk 20 hari ke depan," tegasnya.

        Kemudian terkait anggaran subsidi energi, ia menambahkan bahwa kondisi masih terkendali. Namun, tidak menutup kemungkinan terjadi lonjakan harga minyak dunia apabila konflik meningkat.

        Baca Juga: Perang AS vs Iran Semakin Membara, 2 Menteri Dipanggil ke Istana

        "Sampai hari ini tidak ada masalah (pada subsidi), tetapi harga dunia pasti akan terkoreksi apabila kondisi geopolitik di Timur Tengah terus memanas," tambahnya.

        Lebih lanjut, Bahlil menyampaikan bahwa pihaknya akan menggelar rapat koordinasi dengan Dewan Energi Nasional (DEN) pada Selasa (3/3/2026). Rapat tersebut bertujuan menyusun kajian mendalam serta strategi mitigasi untuk melindungi ketahanan energi nasional dari gangguan pasokan global.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
        Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: