Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Rupiah Melemah ke Rp16.892 Usai Fitch Revisi Outlook Utang RI Jadi Negatif

        Rupiah Melemah ke Rp16.892 Usai Fitch Revisi Outlook Utang RI Jadi Negatif Kredit Foto: Antara/Reno Esnir
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah 20 poin ke level Rp16.892 pada perdagangan Rabu (4/3/2026). Pelemahan ini terjadi seiring revisi peringkat utang Indonesia oleh lembaga pemeringkat internasional.

        Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan lembaga pemeringkat global Fitch Ratings merevisi prospek (outlook) peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi negatif. Meski demikian, peringkat kredit jangka panjang mata uang asing (Long-Term Foreign Currency Issuer Default Rating/IDR) tetap dipertahankan di level BBB.

        “Revisi outlook mencerminkan meningkatnya ketidakpastian kebijakan serta kekhawatiran terhadap konsistensi dan kredibilitas bauran kebijakan ekonomi Indonesia di tengah meningkatnya sentralisasi pengambilan keputusan,” kata Ibrahim kepada wartawan.

        Di sisi lain, Fitch tetap mempertahankan peringkat BBB karena menilai Indonesia memiliki rekam jejak yang cukup baik dalam menjaga stabilitas makroekonomi. Penilaian tersebut didukung prospek pertumbuhan jangka menengah, rasio utang pemerintah yang moderat terhadap produk domestik bruto (PDB), serta cadangan eksternal yang masih memadai.

        Fitch juga memproyeksikan defisit fiskal Indonesia pada 2026 berada di kisaran 2,9 persen PDB, lebih tinggi dibandingkan target pemerintah sebesar 2,7 persen. Proyeksi tersebut dipengaruhi asumsi penerimaan negara yang lebih konservatif serta peningkatan belanja sosial, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).

        Sementara itu, Bank Indonesia mengisyaratkan pemantauan ketat terhadap dampak inflasi akibat kenaikan harga energi global. Untuk menjaga stabilitas rupiah, BI tetap berada di pasar melalui intervensi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot, serta Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai pembelian surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder.

        Dari sentimen eksternal, pelemahan mata uang Garuda juga dipengaruhi tensi geopolitik di Timur Tengah. Para pelaku pasar, menurut Ibrahim, telah memperhitungkan risiko pasokan di tengah meluasnya konflik kawasan tersebut.

        Baca Juga: Rupiah Nyaris Rp17.000, Digempur 3 Sentimen Global Ini

        Baca Juga: Perang Meluas di Timur Tengah, Rupiah Melemah ke Rp16.872

        Baca Juga: Rupiah Ambles ke Rp16.868, Terseret Perang AS-Iran

        “Dimulai pada akhir pekan, ketika pasukan AS dan Israel melancarkan serangan terkoordinasi terhadap militer Iran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei,” ujarnya.

        Situasi semakin memburuk setelah pasukan Israel dan AS kembali melakukan serangan terhadap sejumlah fasilitas yang terkait dengan Iran pada Selasa. Iran merespons dengan meningkatkan pengerahan militer di kawasan Teluk serta mengeluarkan peringatan kepada operator pelayaran global.

        “Teheran juga menargetkan kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz, jalur sempit yang menangani sekitar seperlima pengiriman minyak global. Otoritas Iran bersumpah akan menyerang setiap kapal yang melintas di selat tersebut,” pungkas Ibrahim.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dwi Aditya Putra
        Editor: Annisa Nurfitri

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: