Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Perang Amerika Serikat-Iran Picu Kekhawatiran Industri Chip Global

        Perang Amerika Serikat-Iran Picu Kekhawatiran Industri Chip Global Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Industri semikonduktor mulai mengkhawatirkan dampak konflik dari Iran dan Amerika Serikat (AS). Hal ini menyusul dampak perang tersebut terhadap rantai pasok global chip, terutama terkait potensi gangguan pasokan material penting dari Timur Tengah.

        Dikutip dari Reuters, Anggota Parlemen Korea Selatan, Kim Young-bae mengatakan kekhawatiran tersebut muncul setelah ia menggelar pertemuan dengan eksekutif perusahaan teknologi besar termasuk Samsung Electronics.

        Baca Juga: Indonesia Siap Masuk Rantai Nilai Semikonduktor Dunia

        Menurut Kim, konflik yang berkepanjangan berpotensi memicu lonjakan harga energi dan mengganggu pasokan bahan baku penting bagi industri chip global. Salah satu kekhawatiran utama industri semikonduktor adalah potensi terganggunya pasokan helium dari Timur Tengah.

        Helium merupakan gas penting yang digunakan dalam proses produksi semikonduktor, terutama untuk menjaga suhu tetap stabil selama proses manufaktur chip.

        “Para pelaku industri menyampaikan kemungkinan produksi semikonduktor dapat terganggu apabila beberapa material kunci tidak dapat diperoleh dari Timur Tengah,” ujar Kim.

        Saat ini, helium belum memiliki alternatif yang efektif dalam proses pendinginan produksi chip, sehingga gangguan pasokan dapat langsung memengaruhi kapasitas produksi.

        Konflik Iran-Amerika Serikat juga dinilai dapat memengaruhi permintaan chip global, khususnya yang berkaitan dengan pembangunan pusat data kecerdasan buatan (AI).

        Kim mengatakan sejumlah perusahaan teknologi besar sebelumnya memiliki rencana jangka panjang membangun pusat data akal imitasi di Timur Tengah.

        Namun ketidakstabilan geopolitik dalam kawasan tersebut dapat membuat rencana investasi tersebut tertunda atau bahkan dibatalkan.

        “Kita mengatakan siklus super semikonduktor telah dimulai, tetapi rencana pembangunan pusat data berpotensi terganggu, yang dapat menimbulkan masalah pada permintaan chip,” kata Kim.

        Jika konflik terus berlanjut, dampaknya diperkirakan tidak hanya dirasakan oleh negara tersebut, tetapi juga oleh industri teknologi global.

        Korea Selatan merupakan salah satu pusat produksi semikonduktor terbesar di dunia, bersama dengan negara seperti Taiwan dan Amerika Serikat.

        Baca Juga: Tak Ada Negosiasi, Iran Siap Hadapi Perang Panjang Dengan Amerika Serikat (AS)

        Gangguan pada rantai pasok material penting atau meningkatnya biaya energi dapat mendorong kenaikan harga chip global, yang pada akhirnya memengaruhi berbagai sektor teknologi mulai dari smartphone, komputer, hingga kecerdasan buatan.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: