Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Fitch Pangkas Outlook Kredit RI Jadi Negatif, Airlangga Genjot Penerimaan Pajak

        Fitch Pangkas Outlook Kredit RI Jadi Negatif, Airlangga Genjot Penerimaan Pajak Kredit Foto: Cita Auliana
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto buka suara terkait keputusan Fitch Ratings yang menurunkan outlook atau prospek peringkat utang Indonesia menjadi negatif.

        Airlangga mengatakan pemerintah telah mempelajari langkah lembaga pemeringkat tersebut dan menjadikannya sebagai pengingat untuk memperkuat penerimaan negara.

        “Itu untuk mengingatkan Indonesia apa yang harus kita pelajari ke depan. Dan tentu beberapa hal yang kita lihat perlu kita perkuat adalah dari sisi penerimaan,” kata Airlangga di Jakarta, Kamis (5/3/2026).

        Menurutnya, pemerintah telah memahami berbagai catatan yang diberikan dan akan mendorong penguatan rasio pajak. Salah satu upaya yang ditempuh adalah optimalisasi sistem core tax yang tengah dikembangkan di Kementerian Keuangan.

        “Nah, kita akan terus kawal saja core tax ini agar rasio pajak kita bisa kita tingkatkan,” tuturnya.

        Baca Juga: Fitch Turunkan Outlook Kredit RI Jadi Negatif, Ini Penyebabnya

        Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp16.892 Usai Fitch Revisi Outlook Utang RI Jadi Negatif

        Baca Juga: Fitch Revisi Outlook RI Jadi Negatif, Ini Respons BI

        Sebelumnya, Fitch Ratings menurunkan prospek (outlook) peringkat kredit Indonesia menjadi negatif dari sebelumnya stabil. Meski demikian, lembaga pemeringkat tersebut tetap mempertahankan peringkat utang jangka panjang mata uang asing atau Long-Term Foreign Currency Issuer Default Rating (IDR) Indonesia di level BBB.

        Dalam laporannya, Fitch Ratings menilai kapasitas fiskal Indonesia masih terbatas. Rasio pendapatan pemerintah terhadap produk domestik bruto (PDB) diproyeksikan hanya mencapai 13,3 persen pada periode 2026–2027.

        Angka tersebut jauh berada di bawah median negara dengan peringkat BBB yang berada di kisaran 25,5 persen.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Cita Auliana
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: