Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Menekraf: Dinamika Geopolitik Global Berdampak Terhadap Ekonomi Rumah Tangga

        Menekraf: Dinamika Geopolitik Global Berdampak Terhadap Ekonomi Rumah Tangga Kredit Foto: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Menteri Ekonomi Kreatif (Menekraf) Teuku Riefky Harsya menyoroti dampak ketegangan geopolitik global, terhadap kondisi ekonomi masyarakat Indonesia.

        Menurutnya, konflik yang terjadi di berbagai belahan dunia berpotensi memengaruhi biaya hidup rumah tangga di dalam negeri.

        Riefky mengatakan, masyarakat tidak bisa menganggap konflik internasional sebagai isu yang jauh dari kehidupan sehari-hari.

        Sebab, dinamika geopolitik global dapat berdampak pada harga kebutuhan pokok hingga stabilitas ekonomi.

        “Jangan disangka pemberitaan-pemberitaan perang, oh itu di Timur Tengah perangnya, itu mungkin di bagian Eropa perangnya, dan seterusnya."

        "Itu tidak akan berdampak kepada dapur rumah tangga kita, ke biaya hidup rumah tangga kita,” ujar Riefky dalam acara laporan capaian program pelatihan digital Emak-Emak Matic dan GenMatic di Jakarta, Rabu (4/3/2026).

        Oleh karena itu, lanjut Riefky, Indonesia perlu memperkuat sektor usaha domestik, terutama UMKM dan industri kreatif.

        Menurut Riefky, penguatan ekonomi kreatif menjadi salah satu strategi penting, agar produk lokal dapat bersaing dan mengurangi ketergantungan terhadap impor.

        “Melalui program Emak-Emak Matic dan GenMatic ini, adalah bagian juga bagaimana industri kreatif kita bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri."

        "Industri kreatif yang tadinya impor bisa digantikan dengan produk-produk lokal,” tutur Riefky.

        Ia menambahkan, penguatan industri kreatif juga sejalan dengan upaya hilirisasi yang saat ini menjadi agenda pemerintah.

        Menurutnya, hilirisasi tidak hanya terbatas pada sektor sumber daya alam seperti tambang, tetapi juga dapat diterapkan pada berbagai subsektor ekonomi kreatif.

        “Hilirisasi tidak hanya hilirisasi tambang, tapi juga hilirisasi fesyen, kuliner, kerajinan, dan seterusnya."

        "Kita harapkan penjualan dan penyerapannya itu dari Indonesia untuk Indonesia oleh Indonesia,” imbuhnya.

        Riefky juga menilai pemanfaatan platform digital dan peningkatan literasi digital, menjadi faktor penting dalam memperluas pasar produk lokal.

        Karena itu, pemerintah membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk sektor swasta.

        “Sistem penjualan yang modern melalui platform digital dan literasi digital inilah yang diperlukan. Kementerian tidak bisa bekerja sendiri, sehingga perlu kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk dengan swasta," ulasnya.

        Di tengah ketidakpastian global sekaligus memanfaatkan peluang yang muncul dari perkembangan ekonomi digital, Riefky menekankan pentingnya peran UMKM dan industri kreatif sebagai penopang ekonomi nasional.

        “Kalau kita ingat bagaimana UMKM menjadi tulang punggung saat Indonesia menghadapi krisis, saat pandemi Covid, dan tentu dalam situasi geopolitik seperti sekarang termasuk peperangan yang ada di Timur Tengah, kita juga berharap UMKM dan industri kreatif Indonesia bisa menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia,” paparnya.

        Ia menambahkan, sejumlah subsektor ekonomi kreatif seperti fesyen, kuliner, dan kriya, saat ini juga memiliki potensi ekspor yang cukup besar ke kawasan Timur Tengah.

        Meski demikian, pemerintah tetap menekankan pentingnya memperkuat pasar domestik.

        Baca Juga: Menlu RI: Piagam PBB Harus Jadi Rujukan dalam Krisis Iran–Timur Tengah

        “Yang paling penting adalah bagaimana market dalam negeri ini tetap kita jaga."

        "Bagaimana market dalam negeri ini juga diisi oleh produk-produk dan brand lokal kita,” tambahnya. (*)

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
        Editor: Yaspen Martinus

        Bagikan Artikel: