Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Peringkat Digital Turun, Pemerintah Fokus Perkuat Engineering

        Peringkat Digital Turun, Pemerintah Fokus Perkuat Engineering Kredit Foto: Youtube Sekretariat Presiden
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa Indonesia berada pada peringkat ke-51 dalam World Digital Competitiveness Rankings 2025, turun dari posisi ke-43 pada tahun sebelumnya.

        Meski terjadi penurunan, pemerintah tetap optimistis dapat memulihkan dan meningkatkan kembali peringkat tersebut melalui penguatan sektor engineering. Hal ini disampaikan Menko Airlangga dalam sambutannya pada acara World Engineering Day 2026 yang diadakan oleh Persatuan Insinyur Indonesia (PII) dan didukung oleh The World Federation of Engineering Organizations (WFEO) dan UNESCO, di Jakarta, Rabu (4/3/2026).

        Baca Juga: Indonesia Wajib Antisipasi Skenario Terburuk Perang AS–Iran, Ini yang Perlu Diperhatikan

        "Kami tetap memandang data ini dengan optimis. Ada kebutuhan untuk memperkuat sektor engineering kita untuk mendapatkan kembali dan bahkan melampaui posisi sebelumnya,” ujarnya, dikutip dari siaran pers Kemenko Perekonomian, Kamis (5/3).

        Indonesia telah memiliki target pembangunan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJMN) 2025-2045. Pada 2030, Indonesia menargetkan untuk berada di peringkat 45 besar Global Innovation Index. Data dari Cyber Security Index 2024 juga menunjukkan bahwa Indonesia telah mapan di Tier 1 - kategori “role model”.

        “Tugas kita sebagai insinyur dan pembuat kebijakan adalah untuk menyebarluaskan keberhasilan dari wilayah Tier 1 ke seluruh negeri, memastikan pertumbuhan digital yang seimbang. Bagi para insinyur, kita harus melampaui dari sekadar ‘inovasi demi inovasi’. Gunakan AI dan Big Data misalnya untuk mengatasi kelangkaan air, mengoptimalkan jaringan energi, dan membangun kota-kota yang tangguh,” kata Menko Airlangga.

        Lebih lanjut, Menko Airlangga mengungkapkan bahwa Indonesia masih mengalami kekurangan jumlah insinyur ataupun sarjana teknik (engineers), terutama karena Pemerintah sedang mendorong pengembangan industri semikonduktor.

        “Kita butuh tambahan sekitar 45% dari jumlah engineer yang ada sekarang. Kemudian juga yang sudah sangat spesifik bahwa kita perlu untuk industri semikonduktor sekitar 15 ribu engineers. Dan, kalau untuk industri digital ya mungkin kita butuh tambahan itu sekitar 150 ribu engineers dalam satu tahun sampai dengan 6 tahun ke depan,” ungkap Menko Airlangga.

        Pemerintah, melalui Kementerian Ketenagakerjaan, juga sudah mendorong program pelatihan vokasi untuk retraining dan reskilling. “Kemudian, dengan program yang kemarin di London sudah ditandatangani antara Danantara dan ARM Limited itu disiapkan pelatihan untuk 15 ribu engineers kepada ekosistem ARM. Jadi, kita sekarang lebih spesifik lagi mencari kebutuhan engineer untuk industri-industri yang didorong Pemerintah,” tutur Menko Airlangga.

        Indonesia telah menunjukkan dirinya sebagai negara pertama di kawasan ASEAN yang berhasil menyelesaikan UNESCO AI Readiness Assessment. Ini berarti bahwa Indonesia bukan hanya konsumen dari teknologi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI), melainkan juga menjadi negara yang secara sistematis mempersiapkan kerangka hukum, etika, dan sosial untuk menjadi tuan rumah generasi inovasi berikutnya.

        Industri yang cepat mengadopsi AI terlihat memperoleh pendapatan tiga kali lebih tinggi daripada industri yang lebih lambat beradaptasi, dengan peningkatan produktivitas dari 8,5% menjadi 27%. Secara global, AI diproyeksikan akan berkontribusi sebesar USD15,7 triliun bagi perekonomian di 2030. Khusus untuk Indonesia, AI Generatif saja berpotensi menambah kontribusi sebesar USD243,5 miliar.

        “Indonesia adalah pasar potensial yang sangat besar di masa depan dan dunia sedang berinvestasi di Indonesia. Meskipun Indonesia menjadi pasar AI yang utama, juga harus dipastikan bahwa kita bukan hanya konsumen teknologi canggih saja, tetapi juga sebagai pencipta dan pemiliknya,” ucap Menko Airlangga.

        Baca Juga: Kemenperin: Sertifikasi Industri Hijau Dorong Efisiensi Produksi dan Kepedulian Lingkungan

        Tidak ada satu negara pun yang dapat membangun planet yang berkelanjutan sendirian. Oleh karena itu, dalam perayaan World Engineering Day 2026 ditegaskan kembali bahwa misi engineering bukan hanya tentang inovasi, melainkan juga tentang tanggung jawab dalam membentuk dunia yang lebih cerdas, lebih hijau, dan lebih berkelanjutan untuk generasi mendatang.

        “Saya ingin mengajak PII untuk semakin berpartisipasi aktif dalam menyukseskan misi ini. Yaitu untuk memobilisasi para insinyur atau sarjana teknik kita, memperkuat standar profesional, mempercepat sertifikasi, mempromosikan praktik engineering yang beretika, dan mendukung pengembangan semikonduktor, AI, dan teknologi hijau di seluruh Indonesia,” pungkas Menko Airlangga.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
        Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya

        Bagikan Artikel: