Trump Mau Pilih Pemimpin Tertinggi, Duta Iran di PBB: AS Tidak Berhak Menentukan!
Kredit Foto: Istimewa
Di podium Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Iran melayangkan peringatan keras kepada Amerika Serikat (AS).
Wakil Tetap Iran untuk PBB Amir-Saeid Iravani menegaskan, negaranya tidak akan pernah membiarkan kekuatan asing mana pun ikut campur dalam urusan dalam negerinya, termasuk soal siapa yang akan memimpin Iran berikutnya.
"Iran adalah negara yang berdaulat dan independen."
"Iran tidak menerima dan tidak akan pernah membiarkan kekuatan asing mana pun ikut campur dalam urusan dalam negerinya," ujar Iravani kepada para wartawan, dikutip dari Kantor Berita TASS.
Pernyataan itu bukan tanpa pemicu.
Dalam wawancara eksklusif dengan Axios, Presiden AS Donald Trump menyatakan dirinya perlu terlibat langsung dalam pemilihan pemimpin Iran berikutnya, seperti yang ia lakukan di Venezuela.
Trump bahkan sudah menolak kandidat paling potensial, Mojtaba Khamenei, putra pemimpin tertinggi yang dibunuh, disebut sebagai figur yang "tidak dapat diterima" dan "tidak berbobot."
Kepada NBC News, Trump menegaskan ingin seluruh struktur kepemimpinan Iran diganti total.
"Kami ingin masuk dan membersihkan segalanya, kami punya beberapa orang yang menurut saya akan melakukan pekerjaan yang baik," tambahnya, tanpa menyebut nama siapa pun.
Iran merespons tegas.
Iravani menyebut pernyataan AS tersebut sebagai pelanggaran nyata terhadap prinsip non-intervensi dalam urusan dalam negeri negara lain, sebagaimana tercantum dalam Piagam PBB.
"Kami akan mengambil semua langkah yang diperlukan untuk membela rakyat, wilayah, dan kemerdekaan kami," tegasnya.
Pernyataan keras Iran di PBB muncul di tengah situasi dalam negeri yang penuh ketidakpastian.
Khamenei terbunuh dalam serangan pembuka AS-Israel, sementara putranya Mojtaba kini menjadi kandidat terdepan untuk menggantikannya, meski belum ada pengumuman resmi dari Majelis Ahli, dewan yang terdiri dari 88 ulama senior Syiah yang berwenang memilih pemimpin tertinggi.
Prosesnya pun tidak berjalan mulus, gedung tempat Majelis Ahli menghitung suara dibom Israel saat proses berlangsung, meski Teheran membantah gedung itu sedang digunakan saat serangan terjadi.
Para analis menyebut Trump tampaknya tengah mencari sosok dari dalam sistem Iran yang bersedia tunduk pada preferensi kebijakannya mirip model Venezuela, di mana Delcy Rodriguez mengambil alih kekuasaan setelah Maduro digulingkan paksa oleh AS.
Di balik pertarungan kata-kata diplomatik ini, ada angka yang jauh lebih berbicara kepada pasar global.
Serangan Iran mengganggu pasokan minyak, mengacaukan jalur penerbangan global, dan memicu lonjakan harga minyak tajam yang ikut menekan harga saham AS.
Kapal-kapal diserang di Teluk Oman dan Selat Hormuz, jalur yang menanggung sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Trump berjanji menjaga harga minyak tetap stabil, dengan mengandalkan produksi domestik AS, mengawal tanker energi melalui Selat Hormuz jika diperlukan, dan memanfaatkan pasokan minyak Venezuela.
Namun para analis mengingatkan, eskalasi lebih lanjut bisa dengan cepat melampaui kemampuan AS untuk mengendalikan dampaknya.
Angkanya tidak bisa diabaikan.
Konflik ini telah menewaskan sedikitnya 1.230 orang di Iran, lebih dari 120 orang di Lebanon, dan sekitar selusin di Israel, ditambah enam tentara AS yang gugur.
"Iran bukan negara yang sama seperti seminggu lalu."
"Seminggu lalu mereka kuat, dan sekarang mereka sudah dilumpuhkan," ucap Trump kepada CNN.
Sementara, Iran tetap pada pendiriannya.
Duta Besar Iran untuk Mesir menegaskan tidak ada permintaan negosiasi yang diajukan Teheran kepada Washington, dan menutup setiap spekulasi tentang kemungkinan kompromi dengan satu kalimat, "Tidak akan ada kepercayaan kepada Trump." (*)
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Yaspen Martinus
Tag Terkait: