Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Damainya AS–Iran Buka Ruang Fiskal APBN, Beban Subsidi Energi Berpotensi Turun

Damainya AS–Iran Buka Ruang Fiskal APBN, Beban Subsidi Energi Berpotensi Turun Kredit Foto: Dok. Kemenkeu
Warta Ekonomi, Jakarta -

Meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran diperkirakan membawa dampak lanjutan terhadap kondisi fiskal Indonesia, terutama dalam pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pemerintah menilai stabilitas geopolitik global dapat berpengaruh pada harga energi dunia dan beban subsidi dalam negeri.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut pemerintah sebelumnya telah mengantisipasi potensi lonjakan harga energi akibat konflik global. Karena itu, sebagian anggaran telah disiapkan untuk mengamankan kebutuhan subsidi energi apabila terjadi gejolak pasar.

Namun, dengan adanya perkembangan positif berupa meredanya konflik, tekanan terhadap harga energi dinilai dapat berkurang. Kondisi tersebut berpotensi menurunkan kebutuhan subsidi yang harus ditanggung oleh APBN.

"Kan kemarin sebagian anggaran sudah kita sisihkan untuk subsidi," kata Purbaya saat ditemui di Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, Senin.

Ia menjelaskan bahwa berkurangnya beban subsidi energi dapat memberikan ruang fiskal tambahan bagi pemerintah. Ruang tersebut nantinya bisa digunakan untuk mendukung berbagai program prioritas yang telah ditetapkan.

"Sehingga akan jauh berkurang (beban subsidi) dan ada ruang untuk memberi pembiayaan program-program lain yang dianggap penting oleh presiden. Jadi kita lihat seperti apa perkembangannya, kemudian baru kita sesuaikan," ujarnya.

Menurut Purbaya, arah kebijakan APBN akan tetap disesuaikan dengan dinamika harga energi global. Pemerintah tidak akan mengambil keputusan secara permanen sebelum melihat perkembangan situasi internasional secara menyeluruh.

Di sisi lain, stabilitas kawasan Timur Tengah juga menjadi perhatian pemerintah Indonesia. Kementerian Luar Negeri menyambut baik adanya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang dinilai dapat menurunkan eskalasi konflik.

Pemerintah menilai kesepakatan tersebut sebagai langkah positif menuju stabilitas dan keamanan kawasan global. Hal ini juga diharapkan dapat menjaga kelancaran pasokan energi dunia yang berdampak pada ekonomi berbagai negara, termasuk Indonesia.

"Hal tersebut merupakan perkembangan positif menuju penyelesaian konflik secara damai serta terciptanya perdamaian, keamanan, dan stabilitas di kawasan," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri RI melalui media sosial X, Senin (15/6/2026).

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa kesepakatan dengan Iran telah tercapai dan mencakup pembukaan kembali jalur strategis Selat Hormuz. Selain itu, blokade angkatan laut Amerika Serikat juga disebut telah dicabut.

Baca Juga: Besok, Purbaya Bakal Temui Investor China Bahas Penerbitan Panda Bond

Pemerintah Iran turut mengonfirmasi tercapainya kesepakatan damai tersebut. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menyebut nota kesepahaman telah difinalisasi dan akan ditandatangani di Swiss pada 19 Juni mendatang.

Kesepakatan itu juga mencakup penghentian operasi militer di beberapa wilayah konflik, termasuk Lebanon. Dengan meredanya ketegangan ini, pasar energi global diperkirakan akan bergerak lebih stabil dalam jangka pendek.

Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan pemerintah Indonesia dalam mengelola postur APBN, terutama terkait subsidi energi dan ruang fiskal untuk program prioritas nasional.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama