Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
PT Vale Indonesia Tbk (INCO) membuka peluang untuk memperluas ekspansi bisnis hingga ke rantai industri baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV). Langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah membangun ekosistem baterai terintegrasi di dalam negeri.
Saat ini, perusahaan tambang nikel di bawah holding MIND ID tersebut masih fokus memproduksi produk antara berupa nickel matte dari fasilitas pengolahan Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) di Sorowako, Sulawesi Selatan.
Di sisi lain, melalui proyek besar Indonesia Growth Project (IGP), perusahaan mulai mengembangkan pengolahan nikel berbasis teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL) yang mampu menghasilkan bahan baku utama komponen baterai.
Direktur sekaligus Chief Sustainability and Corporate Affairs Officer PT Vale Indonesia, Budiawansyah, menjelaskan bahwa rantai industri berbasis HPAL menuju produksi baterai masih cukup panjang. Oleh karena itu, perusahaan terus berkoordinasi dengan pemerintah untuk mendorong terbentuknya ekosistem nasional yang solid.
"Kita melihat supply chain dari industri berbasis HPAL masih cukup panjang untuk menuju ke sebuah baterai packing. Karena itu kami terus berkoordinasi dengan pemerintah untuk mewujudkan ekosistem baterai terintegrasi di Indonesia,” kata Budi dalam acara buka bersama media di Jakarta, dikutip Senin (9/3/2026).
Saat ini posisi Vale berada di sektor hulu sebagai penyedia bahan baku nikel. Posisi tersebut dinilai krusial sebagai anchor industry (industri jangkar) bagi pengembangan hilirisasi kendaraan listrik.
"Ya, tadi saya bilang kan tujuan utamanya itu membentuk ekosistem baterai. PT Vale itu di tambang dan harapannya kita bisa membentuk ekosistem di situ. Kita sebagai anchor industry. Jadi pertambangannya, Vale-nya, anchor-nya," ujarnya.
Budi menambahkan, setelah aktivitas pertambangan sebagai basis utama, pengembangan selanjutnya dilakukan melalui kerja sama joint venture (JV) untuk memproduksi produk antara seperti nikel sulfat.
"Jadi mining-nya dari Vale, habis itu JV-nya ada untuk memproduksi intermediate. Jadi sudah siap di situ dalam bentuk nikel sulfat. Nah, pemerintah memiliki objektif bagaimana membentuk ekosistem baterai di situ," tambahnya.
Meski demikian, Vale tidak menutup kemungkinan untuk bergerak lebih jauh ke hilir. "Ada kemungkinan, pasti ke arah battery," singkatnya.
Sejalan dengan strategi tersebut, Vale saat ini tengah mengembangkan sejumlah proyek hilirisasi nikel melalui Indonesia Growth Project (IGP) di Pomalaa, Morowali, dan Sorowako. Proyek-proyek ini mencakup pembangunan tambang dan fasilitas pengolahan HPAL yang akan memproduksi mixed hydroxide precipitate (MHP) sebagai bahan baku material baterai kendaraan listrik.
Proyek IGP Pomalaa di Sulawesi Tenggara menjadi salah satu investasi hilirisasi terbesar Vale dengan nilai sekitar US$4,5 miliar.
Proyek yang dikembangkan bersama Huayou (Tiongkok) dan Ford Motor Company (AS) ini mencakup pembangunan tambang dan pabrik pengolahan berbasis High Pressure Acid Leach (HPAL) untuk menghasilkan mixed hydroxide precipitate (MHP). Hingga saat ini progres konstruksi proyek mencapai sekitar 65,76% dan ditargetkan rampung pada 2026, dengan target pasokan sekitar 300 ribu ton bijih limonit per bulan untuk mendukung operasional pabrik pengolahan.
Sementara itu proyek IGP Morowali (Blok Bahodopi) di Sulawesi Tengah juga tengah dikembangkan melalui pembangunan tambang limonit dan fasilitas HPAL bersama GEM (Tiongkok) dan EcoPro (Korea Selatan).
Proyek dengan nilai investasi sekitar US$2 miliar ini telah mencapai progres sekitar 98,85% dan bahkan telah mencatatkan penjualan bijih pertama (first ore sale) pada 28 Februari 2026 sebagai tahap awal operasional tambang. Fasilitas HPAL pada proyek tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada periode 2026–2027 untuk memasok bahan baku material baterai kendaraan listrik.
Selain itu, Vale juga mengembangkan proyek IGP Sorowako Limonite di Sulawesi Selatan bersama Huayou yang dirancang untuk memanfaatkan cadangan limonit sebagai bahan baku pengolahan baterai.
Proyek ini mencakup pembangunan tambang serta fasilitas HPAL dengan kapasitas sekitar 60 ribu ton MHP per tahun, dengan nilai investasi sekitar US$2,2 miliar. Hingga kini proyek tersebut masih berada pada tahap konstruksi dengan progres sekitar 37% dan ditargetkan mulai beroperasi sekitar 2027.
Tantangan Teknologi dan Pasar
Di tengah ekspansi tersebut, Budi mengakui perusahaan terus mencermati dinamika teknologi baterai global, termasuk kemunculan solid-state battery yang diklaim lebih efisien.
"Solid-state battery itu ternyata lebih cepat. Salah satu produsen solid-state battery yang ada di China sudah memproduksi secara komersial yang akan mulai dikirimkan ke produsen EV yang ada," ungkapnya.
Baca Juga: Vale Sebut Penyaluran Kompensasi Kebocoran Pipa Sudah Lebih dari 70%
Di sisi lain, ia juga menyoroti persaingan antara baterai berbasis nikel (NMC) dengan Lithium Iron Phosphate (LFP) yang saat ini banyak digunakan di pasar kendaraan listrik.
Budi berharap pemerintah memberikan dukungan kebijakan agar produk baterai berbasis nikel tetap kompetitif dari sisi harga.
"Makanya kita berharap ada semacam dukungan kebijakan dari pemerintah bagaimana mengoptimalkan EV berbasis nikel ini sehingga bisa bersaing di pasar karena pada akhirnya yang menentukan adalah price," pungkasnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: