Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Ingat Pengalaman Suriah, Kurdi Iran Diperingatkan Bahayanya Menjadi Pion Amerika Serikat

        Ingat Pengalaman Suriah, Kurdi Iran Diperingatkan Bahayanya Menjadi Pion Amerika Serikat Kredit Foto: The Sunday Times
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Kelompok Kurdi Suriah memperingatkan soal ajakan kerja sama militer dari Amerika Serikat dan Komunitas Kurdi Iran. Pihaknya memperingatkan dampak bersekutu dengan negara tersebut, serta melawan Teheran.

        Ketua Kurdish Progressive Democratic Party, Ahmed Barakat mengatakan pengalaman kelompoknya dapat menjadi pelajaran penting bagi Kurdi di Iran. Ia meminta mereka mempertimbangkan secara matang konsekuensi jika memilih bersekutu dengan Washington.

        Baca Juga: Makin Banyak Negara Eropa Kecam Serangan Amerika Serikat-Israel ke Iran

        Menurut Barakat, keputusan tersebut memang berada di tangan Kurdi Iran. Namun ia menilai langkah itu bukan pilihan terbaik saat ini.

        “Menerima undangan mereka dan menjadi ujung tombak dalam menghadapi atau melemahkan rezim bukanlah kepentingan terbaik bagi Kurdi Iran,” ujarnya, dikutip dari Reuters.

        Sebelumnya, Kelompok Kurdi Suriah lebih dari satu dekade lalu telah menjadi sekutu Amerika Serikat. Keduanya menjadi mitra dalam perang melawan Islamic State. Dukungan Washington, membuat mereka berhasil membentuk wilayah semi-otonom di Utara Suriah.

        Namun situasi berubah pada awal tahun ini menyusul manuver dari Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa. Ia melancarkan operasi militer besar yang merebut sebagian besar wilayah yang sebelumnya dikuasai pasukan dari Kurdi.

        Kelompok Kurdi Suriah saat itu meminta intervensi Amerika Serikat. Namun Washington justru mendorong mereka untuk bergabung dengan pasukan dari Suriah. Peristiwa tersebut meninggalkan rasa kekecewaan mendalam dalam kalangan dari Kurdi Suriah.

        Adapun Presiden Amerika Serikat Donald Trump kini mengajak kelompok tersebut untuk melawan Iran. Namun Trump dalam pernyataan terbarunya tampak mengubah sikapnya dengan mengatakan ia tidak ingin melihat keterlibatan dari Kurdi.

        Kaum Kurdi sendiri merupakan kelompok etnis yang hingga kini tidak memiliki negara sendiri sejak runtuhnya Ottoman Empire. Mayoritas Kurdi beragama islam dan menggunakan bahasa yang masih berkerabat dengan bahasa Persia.

        Baca Juga: 104 Pelaut Iran Tewas Akibat Torpedo Submarine Amerika Serikat

        Mereka tersebar dalam wilayah pegunungan yang melintasi perbatasan dari Armenia, Irak, Iran, Suriah dan Turki. Di Irak, Kurdi memiliki wilayah otonomi sendiri dengan pemerintahan regional. Namun di negara lain, aspirasi pembentukan wilayah otonomi atau negara sendiri hingga kini masih belum terwujud.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: