Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        OJK: Jika Perang Berlarut, Ekonomi Global dan RI Terancam

        OJK: Jika Perang Berlarut, Ekonomi Global dan RI Terancam Ilustrasi: Wafiyyah Amalyris K
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi menimbulkan dampak lebih luas terhadap perekonomian global maupun domestik apabila berlangsung dalam jangka waktu lama. Eskalasi konflik tersebut telah memicu tekanan di pasar keuangan global dan meningkatkan ketidakpastian ekonomi.

        Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan ketegangan geopolitik global saat ini menjadi perhatian serius industri keuangan karena berpotensi memicu inflasi, pelemahan nilai tukar, serta gejolak pasar keuangan.

        “Melihat perkembangan dalam waktu seminggu terakhir, saat ini tensi geopolitik semakin meningkat seiring dengan eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran setelah Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan ke Teheran. Dampak nyata dari konflik tersebut telah terasa pada pasar saham di Asia yang anjlok akibat aksi panic-selling di tengah kekhawatiran bahwa konflik dimaksud akan memicu inflasi dan menghantam ekonomi global. Dampak lebih luas terhadap perekonomian global dan domestik mungkin terjadi apabila perang ini berlangsung lama,” kata Dian dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin (9/3/2026).

        Pernyataan tersebut disampaikan OJK seiring rilis Survei Orientasi Bisnis Perbankan OJK (SBPO) triwulan I-2026 yang menunjukkan kinerja perbankan nasional masih berada dalam kondisi solid meskipun di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

        Survei yang dilakukan pada Januari 2026 tersebut melibatkan 93 bank responden dengan porsi total aset mencapai 94,17% dari total aset bank umum berdasarkan data Desember 2025.

        Hasil survei menunjukkan Indeks Orientasi Bisnis Perbankan (IBP) pada triwulan I-2026 berada di level 56 atau masuk zona optimistis. Angka ini mencerminkan keyakinan industri bahwa sektor perbankan masih mampu menjaga kinerja dan mengelola risiko di tengah tekanan global.

        “Optimisme tersebut didorong oleh proyeksi pertumbuhan kinerja perbankan, dan keyakinan bahwa bank masih akan cukup mampu mengelola risiko di tengah ekspektasi peningkatan inflasi dan pelemahan nilai tukar,” ujar Dian.

        Namun demikian, ekspektasi terhadap kondisi makroekonomi mengalami penurunan. Indeks Ekspektasi Kondisi Makroekonomi (IKM) tercatat sebesar 45 atau berada di zona pesimistis.

        Dian menjelaskan peningkatan inflasi dipengaruhi faktor musiman seperti Ramadan, Idulfitri, serta Tahun Baru Imlek yang mendorong kenaikan harga barang dan jasa.

        Selain itu, terdapat faktor low based effect dari tahun sebelumnya ketika diskon tarif listrik diberlakukan dan tidak lagi terjadi pada triwulan I-2026.

        Nilai tukar rupiah juga diperkirakan menghadapi tekanan seiring tingginya tensi geopolitik global.

        Meski demikian, mayoritas responden dalam survei menilai risiko sektor perbankan masih dapat dikendalikan. Hal ini tercermin dari Indeks Persepsi Risiko (IPR) sebesar 57 yang berada di zona optimistis.

        OJK mencatat kualitas kredit diperkirakan tetap terjaga dengan Posisi Devisa Neto (PDN) berada pada level rendah. Kondisi tersebut didukung posisi aset dan tagihan valuta asing yang lebih besar dibandingkan kewajiban valas.

        Dari sisi likuiditas, industri perbankan juga diperkirakan tetap stabil seiring proyeksi pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang lebih tinggi dibandingkan penyaluran kredit. Kondisi ini diperkirakan meningkatkan arus kas bersih (net cashflow) pada triwulan I-2026.

        “Selain itu, cash inflow juga diperkirakan meningkat seiring dengan adanya dana Pemerintah Daerah yang mulai masuk pada triwulan I-2026,” kata Dian.

        Ekspektasi terhadap kinerja perbankan juga tercermin dari Indeks Ekspektasi Kinerja (IEK) yang mencapai 67 atau berada pada zona optimistis. Pertumbuhan kredit diperkirakan tetap berlanjut didorong meningkatnya permintaan pembiayaan serta ekspansi kredit dari bank.

        OJK mencatat sektor industri pengolahan masih menjadi kontributor terbesar penyaluran kredit perbankan dengan pertumbuhan sebesar 6,60% secara tahunan (year on year/yoy) pada Januari 2026.

        Baca Juga: Kondisi Geopolitik Memanas, OJK Pastikan Bank RI Tetap Kuat

        Baca Juga: OJK Sebut Volatilitas IHSG Respons Awal dari Ketidakpastian Global

        “Hasil survei ini juga menunjukkan bahwa responden memiliki concern yang besar terhadap kondisi global yang terus berlangsung untuk jangka waktu yang lama (prolonged), dan bahkan memburuk, serta implikasi yang ditimbulkan terhadap kinerja ekonomi Indonesia. Meskipun berbagai indikator perbankan saat ini dalam posisi yang resilience, perbankan masih sangat membutuhkan ekosistem bisnis yang vibrant untuk dapat tumbuh dengan baik,” ujar Dian.

        OJK memperkirakan ekonomi Indonesia pada 2026 tetap tumbuh solid didukung stimulus fiskal dan kebijakan moneter yang akomodatif. Konsumsi rumah tangga dan sektor manufaktur diproyeksikan tetap menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional.

        Selain itu, mayoritas bank responden juga optimistis penyaluran kredit kepada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) akan meningkat pada triwulan I-2026.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Cita Auliana
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: