Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Dirjen Minerba: RKAB Batu Bara 2026 yang Disetujui Mendekati 300 Juta Ton

        Dirjen Minerba: RKAB Batu Bara 2026 yang Disetujui Mendekati 300 Juta Ton Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyetujui sebagian Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) perusahaan batu bara untuk tahun 2026, dengan total volume mendekati 300 juta ton.

        Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Tri Winarno mengatakan, persetujuan tersebut merupakan bagian dari proses evaluasi pemerintah terhadap rencana produksi perusahaan tambang batu bara tahun ini.

        "Yang sudah disetujui ya."

        "Sekitar hampir 300 jutaan lah," kata Tri saat ditemui di Kilang Balongan, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Kamis (12/3/2026).

        Tri belum merinci perusahaan mana saja yang telah memperoleh persetujuan RKAB.

        Namun, ia menyebut sejumlah perusahaan besar telah mendapatkan lampu hijau, termasuk perusahaan eks Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) seperti PT Bukit Asam Tbk.

        "Eks PKP2B ada (sudah disetujui RKAB), tapi ada juga yang belum," ujarnya.

        Persetujuan RKAB menjadi penting, karena masa relaksasi produksi batu bara sebesar 25% dari rencana produksi yang diajukan akan berakhir pada 31 Maret 2026.

        Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyatakan, pemerintah berencana menurunkan target produksi batu bara nasional pada 2026 menjadi sekitar 600 juta ton, lebih rendah dibandingkan realisasi produksi tahun 2025 yang mencapai 790 juta ton.

        Menurut Bahlil, langkah tersebut diambil untuk menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan batu bara di pasar global, yang dalam beberapa bulan terakhir mengalami tekanan harga.

        "Batu bara yang diperdagangkan di global itu kurang lebih sekitar 1,3 miliar ton."

        "Nah, dari 1,3 miliar ton itu, Indonesia menyuplai 514 juta ton atau setara kurang lebih sekitar 43%."

        "Akibatnya apa? Supply and demand itu tidak terjaga. Akhirnya harga batu bara turun," tutur Bahlil dalam konferensi pers di Jakarta.

        Ia menambahkan, pengurangan produksi juga bertujuan menjaga keberlanjutan sumber daya alam nasional.

        "Kita akan melakukan revisi RKAB."

        "Jadi produksi kita akan turunkan."

        "Supaya harga bagus dan tambang ini juga kita harus wariskan kepada anak cucu kita."

        "Jadi jangan cara berpikir kita mengelola sumber di alam itu seolah-olah harus selesai semua sekarang. Kurang lebih jadi 600 jutaan ton," paparnya.

        Baca Juga: Ternyata Ini Alasan Bahlil Ngotot Enggak Mau Revisi Kuota RKAB

        Pada 2025, produksi batu bara Indonesia tercatat mencapai 790 juta ton.

        Dari jumlah tersebut, sekitar 514 juta ton atau 65,1% diekspor, sementara 254 juta ton atau sekitar 32% diserap pasar domestik, dan sekitar 22 juta ton disimpan sebagai cadangan stok. (*)

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Yaspen Martinus

        Bagikan Artikel: