Pilih Abstain, China dan Rusia Ikut Loloskan Resolusi DK PBB Agar Iran Tidak Serang Kawasan Teluk dan Selat Hormuz
Kredit Foto: PBB/Manuel Elías
Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengadopsi resolusi yang mengutuk serangan Iran terhadap sejumlah negara Teluk dan Yordania, serta menuntut Teheran segera menghentikan peperangan. Resolusi tersebut dibahas dan disahkan pada Rabu (11/3/2026) di Markas Besar PBB, New York.
Rancangan resolusi yang diajukan Bahrain atas nama anggota Gulf Cooperation Council (GCC) dan Yordania itu diadopsi dengan 13 suara mendukung, sementara China dan Rusia memilih abstain.
Duta Besar Bahrain untuk PBB, Jamal Fares Alrowaiei, yang memperkenalkan resolusi dan disponsori oleh 135 negara tersebut, menyatakan bahwa pengesahan resolusi menjadi bukti pentingnya kawasan Teluk dalam perekonomian dunia.
“Inilah mengapa memastikan keamanan kawasan ini bukan hanya masalah regional, tetapi merupakan tanggung jawab internasional bersama, yang terkait erat dengan stabilitas ekonomi global dan keamanan energi,” kata Alrowaiei kepada Dewan Keamanan, dikutip dari The Times of Israel.
Teks resolusi itu “mengutuk dengan keras serangan keji” Iran terhadap Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Yordania.
Resolusi tersebut juga menyatakan bahwa serangan itu merupakan pelanggaran hukum internasional dan ancaman serius terhadap perdamaian serta keamanan internasional.
Selain itu, resolusi tersebut juga mengutuk setiap tindakan atau ancaman oleh Republik Islam Iran yang bertujuan menutup, menghalangi, atau mengganggu navigasi internasional melalui Selat Hormuz.
Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, menilai adopsi resolusi itu sebagai penyalahgunaan mandat Dewan Keamanan yang terang-terangan untuk mengejar agenda politik Amerika Serikat dan Israel.
“Izinkan saya memperjelas, resolusi ini merupakan ketidakadilan yang nyata terhadap negara saya, korban utama dari tindakan agresi yang jelas,” ujarnya, dikutip dari The Times of Israel.
Meski China dan Rusia memilih abstain, keduanya tidak menggunakan hak veto untuk memblokir resolusi tersebut.
China yang memilih abstain menyatakan tetap memahami kekhawatiran negara-negara Teluk, tetapi menilai resolusi tersebut belum sepenuhnya menggambarkan dinamika konflik yang sebenarnya.
“China sangat prihatin dengan situasi yang meningkat pesat di kawasan Teluk, yang berisiko mendorong seluruh Timur Tengah ke jurang yang berbahaya,” kata Duta Besar China untuk PBB, Fu Cong, kepada Dewan Keamanan, dikutip dari laman resmi PBB.
Ia menambahkan bahwa rancangan resolusi tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan akar penyebab dan gambaran keseluruhan konflik secara seimbang.
Karena itu, menurutnya, China “tidak punya pilihan selain abstain” dalam pemungutan suara, sembari mendesak semua pihak menghentikan operasi militer dan kembali ke jalur dialog.
Di sisi lain, Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB, Mike Waltz, menyatakan bahwa langkah Iran justru menjadi bumerang bagi negara tersebut.
“Strategi Iran untuk menabur kekacauan, mencoba menyandera negara-negara tetangganya, dan menggoyahkan tekad kawasan ini jelas telah menjadi bumerang, seperti yang ditunjukkan oleh pemungutan suara hari ini,” kata Waltz, dikutip dari The Times of Israel.
Dalam pemungutan suara tersebut, Latvia menjadi satu-satunya negara yang menolak resolusi yang diajukan Bahrain.
Duta Besar Latvia untuk PBB, Sanita Pavļuta-Deslandes, mengatakan negaranya tetap mendukung larangan penggunaan kekerasan sebagaimana tercantum dalam Piagam PBB serta perlindungan warga sipil berdasarkan hukum internasional.
Namun, ia menyatakan Latvia tidak dapat mendukung rancangan tersebut karena diajukan oleh anggota tetap Dewan Keamanan yang telah melanggar prinsip-prinsip tersebut selama bertahun-tahun.
“Kami sepakat bahwa ini bukan resolusi yang diajukan dengan itikad baik. Meski kami setuju dengan nilai-nilai dan tujuan yang diuraikan dalam teks tersebut, Latvia terpaksa menolaknya,” ujarnya, dikutip dari laman resmi PBB.
Sayangnya, Latvia bukan anggota DK PBB sehingga penolakannya tidak menghentikan resolusi tersebut.
Baca Juga: Didongkrak Konflik Iran, Amerika Serikat Menyambut Baik Kenaikan Harga Minyak: Kami Untung
Dalam kesempatan yang sama, Rusia juga mengajukan rancangan resolusi terkait krisis regional yang lebih luas. Teks tersebut mendesak semua pihak segera menghentikan aktivitas militer dan menahan diri dari eskalasi lebih lanjut.
Meski tidak menyebut pihak tertentu, rancangan resolusi itu juga mengutuk serangan terhadap warga sipil dan infrastruktur sipil. Namun, usulan tersebut hanya memperoleh empat suara mendukung dan dua menentang, sementara sembilan anggota lainnya abstain, sehingga tidak cukup untuk diadopsi.
Sebuah resolusi Dewan Keamanan dapat disahkan apabila memperoleh sedikitnya sembilan suara mendukung dan tidak mendapat veto oleh lima anggota tetap Dewan Keamanan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: