Kredit Foto: Ist
PT Central Proteina Prima Tbk (CPRO) mengungkapkan perkembangan terkait status salah satu entitas anaknya yang berbasis di Singapura, yakni CPP Intertrade Pte Ltd. Perusahaan tersebut kini tengah menjalani proses striking off atau penghapusan dari daftar badan hukum setempat.
Sekretaris Perusahaan CPRO, Farah Reza Praditya, menjelaskan bahwa anak usaha tersebut telah menerima pemberitahuan resmi dari Accounting and Corporate Regulatory Authority (ACRA) terkait penerimaan pendaftaran proses tersebut.
"Perseroan menyampaikan bahwa entitas anak Perseroan, CPP Intertrade Pte Ltd, yang didirikan berdasarkan hukum Singapura, telah menerima pemberitahuan penerimaan pendaftaran striking off dari Accounting and Corporate Regulatory Authority (ACRA)," katanya dalam keterbukaan informasi, Senin (16/3).
Dalam pemberitahuan yang disampaikan oleh ACRA disebutkan bahwa jika hingga 15 Maret 2026 tidak ada pihak yang mengajukan keberatan, maka perusahaan tersebut akan dihapus dari daftar badan hukum di Singapura dan dibubarkan secara administratif.
Farah menambahkan bahwa hingga saat ini tidak ada pihak yang menyampaikan keberatan terhadap proses tersebut. "Sampai dengan hari ini, 16 Maret 2026, tidak terdapat keberatan dari pihak mana pun, sehingga proses striking off telah diterima secara hukum dan Perseroan saat ini menunggu pemberitahuan final dari ACRA terkait penyelesaian proses tersebut," ujar Farah Reza.
Baca Juga: Presiden Prabowo Batal Bubarkan Bea Cukai Usai Melihat Adanya Perbaikan
Adapun keterbukaan informasi ini disampaikan sebagai bagian dari komitmen perusahaan dalam menjalankan prinsip tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance) di lingkungan usaha Perseroan.
"Perseroan menegaskan bahwa proses striking off ini tidak berdampak material terhadap kegiatan operasional maupun kondisi keuangan Perseroan, mengingat sejak didirikan entitas anak tersebut belum beroperasi," pungkas Farah Reza.
Sebagai informasi tambahan, saham CPRO pada perdagangan Senin (16/3) ditutup turun -1,85% ke level Rp53. Dalam sebulan terakhir, sahamnya bahkan tercatat ambruk -18,46%.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: