ADB Tawarkan Dana Darurat ke Negara Berkembang Termasuk Indonesia untuk Redam Dampak Perang AS-Iran
Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Asian Development Bank (ADB) menyiapkan paket dukungan keuangan bagi negara-negara berkembang di kawasan Asia dan Pasifik, termasuk Indonesia, untuk memitigasi dampak ekonomi dan keuangan akibat perang AS-Iran. Dukungan ini difokuskan pada stabilisasi makroekonomi, pengamanan pasokan energi, serta perlindungan kelompok rentan di tengah tekanan global.
Presiden ADB Masato Kanda menyatakan ADB akan memberikan dukungan yang cepat dan fleksibel guna merespons tekanan yang meningkat di negara anggota berkembang (developing member countries/DMCs).
“ADB akan memberikan dukungan yang cepat, fleksibel, dan dapat disesuaikan untuk membantu negara-negara mengatasi tekanan mendesak dan memperkuat ketahanan jangka panjang, terutama melalui dukungan anggaran yang dapat dicairkan dengan cepat serta pembiayaan perdagangan dan rantai pasokan guna menjamin impor barang-barang penting, yang kini mencakup minyak,” kata Kanda, dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu (25/3/2026).
Ia menegaskan memiliki kapasitas pendanaan yang memadai untuk menjaga keberlanjutan proyek yang berjalan sekaligus memperluas dukungan darurat sesuai kebutuhan negara anggota, termasuk melalui pemanfaatan fasilitas pinjaman kontra-siklus.
Langkah ini diambil seiring meningkatnya risiko ekonomi global akibat konflik di Timur Tengah yang berdampak pada lonjakan harga energi, tekanan inflasi, serta potensi pelemahan neraca transaksi berjalan di sejumlah negara berkembang di Asia, termasuk Indonesia yang masih bergantung pada stabilitas pasokan energi dan arus perdagangan global.
Analisis ADB menunjukkan gangguan pada jalur pengiriman global telah meningkatkan biaya logistik dan memperpanjang waktu distribusi. Risiko pasokan tidak hanya terjadi pada energi, tetapi juga bahan baku industri seperti petrokimia dan pupuk yang berdampak langsung pada sektor pertanian dan produksi pangan.
Selain itu, negara dengan ketergantungan tinggi pada sektor pariwisata dan remitansi menghadapi kerentanan tambahan, sementara ketidakpastian global memperketat kondisi keuangan, menekan nilai tukar, serta meningkatkan volatilitas arus modal di kawasan.
Sebagai respons, ADB menyiapkan dua skema utama dukungan. Pertama, dukungan anggaran yang dapat dicairkan dengan cepat untuk membantu negara menghadapi tekanan fiskal, termasuk melalui fasilitas pembiayaan kontra-siklus guna menjaga stabilitas ekonomi dan melindungi kelompok masyarakat yang paling rentan.
Baca Juga: Suntikan Dana ADB Rp42,96 Triliun! Tambah Utang atau Percepat Indonesia Emas 2045?
Baca Juga: Konflik Timur Tengah Guncang Energi dan Dunia Usaha
Baca Juga: Serangan Kilang dan Penutupan Hormuz Picu Gangguan Energi Global, Harga Minyak Tertahan di US$110
Kedua, ADB mengaktifkan kembali Program Pembiayaan Perdagangan dan Rantai Pasokan (Trade and Supply Chain Finance Program/TSCFP) untuk memastikan kelancaran impor barang penting, termasuk energi dan pangan. Dalam skema ini, ADB kembali membuka dukungan pembiayaan impor minyak untuk periode terbatas.
Kebijakan tersebut diambil menyusul dampak signifikan lonjakan harga minyak serta gangguan rantai pasok terhadap kondisi ekonomi dan sosial di kawasan Asia dan Pasifik.
ADB juga telah memulai pembicaraan dengan negara-negara anggota yang terdampak, termasuk negara berkembang seperti Indonesia, guna menyiapkan dukungan segera. Koordinasi dilakukan bersama pemerintah, mitra pembangunan, dan sektor swasta untuk memastikan respons yang terintegrasi dan efektif dalam menjaga stabilitas ekonomi kawasan
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: