Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Ditekan di Dalam Negeri, Trump Lebih Takut Hasil Survei Rakyat AS?

        Ditekan di Dalam Negeri, Trump Lebih Takut Hasil Survei Rakyat AS? Kredit Foto: Instagram/Donald Trump
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Iran menolak rencana Amerika Serikat (AS) untuk menghentikan sementara perang di Timur Tengah. Alih-alih mereda, Iran justru melancarkan lebih banyak serangan ke Israel dan negara-negara yang menjadi sekutu AS di kawasan Teluk.

        Sikap menantang Iran ini terjadi bersamaan dengan serangan udara Israel ke Teheran, serta pengerahan pasukan terjun payung dan tambahan Marinir AS ke kawasan tersebut.

        Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam sebuah wawancara di stasiun TV pemerintah Iran menegaskan bahwa pemerintahannya belum terlibat dalam pembicaraan apa pun untuk mengakhiri perang.

        "Kami juga tidak merencanakan negosiasi apa pun," ujarnya. 

        The Associated Press menyebut ada sebuah laporan dari saluran berbahasa Inggris milik TV pemerintah Iran yang mengutip seorang pejabat anonim. Pejabat tersebut menyatakan bahwa Iran menolak proposal gencatan senjata AS dan memiliki tuntutannya sendiri untuk mengakhiri pertempuran.

        Sebelumnya, dua pejabat dari Pakistan yang bertindak sebagai perantara penyampai rencana AS ke Iran menjelaskan secara garis besar 15 poin proposal tersebut.

        Proposal itu mencakup pelonggaran sanksi, pengurangan program nuklir Iran, pembatasan rudal, serta pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur vital yang dilewati seperlima pasokan minyak dunia.

        Seorang pejabat Mesir yang terlibat dalam upaya mediasi mengungkapkan bahwa proposal tersebut juga memuat larangan atau pembatasan dukungan Iran terhadap kelompok-kelompok bersenjata. Para pejabat tersebut berbicara dengan syarat anonim karena membahas detail yang belum dirilis ke publik.

        Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump, saat berbicara dalam sebuah acara penggalangan dana pada Rabu malam di Washington, bersikeras bahwa Iran sebenarnya masih ingin mencapai kesepakatan.

        "Ngomong-ngomong, mereka sedang bernegosiasi dan mereka sangat ingin membuat kesepakatan. Tapi mereka takut mengatakannya karena berpikir akan dibunuh oleh rakyatnya sendiri," klaim Trump, seraya menambahkan, "Mereka juga takut akan dibunuh oleh kita."

        Iran sejak lama bersikukuh tidak akan merundingkan program rudal balistiknya maupun dukungannya terhadap milisi regional, yang mereka anggap sebagai kunci keamanan nasional.

        Selain itu, kemampuan Iran dalam mengontrol jalur perlintasan di Selat Hormuz merupakan salah satu keuntungan strategis terbesarnya.

        Serangan Iran terhadap infrastruktur energi regional, ditambah dengan pembatasan akses di selat tersebut, telah membuat harga minyak dunia melonjak tajam. Kondisi ini memberikan tekanan besar bagi AS untuk segera mencari jalan keluar guna mengakhiri kebuntuan dan menenangkan pasar global.

        Menurut jajak pendapat terbaru AP-NORC, sebagian besar warga Amerika meyakini bahwa tindakan militer AS terhadap Iran sudah melampaui batas, dan banyak warga yang khawatir akan dampaknya terhadap lonjakan harga bensin.

        Survei tersebut mengindikasikan bahwa meski tingkat approval rating Trump masih stabil, konflik ini bisa dengan cepat berubah menjadi beban politik besar bagi pemerintahan Partai Republik tersebut.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Ferry Hidayat

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: