Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        KTT ASEAN Bakal Digelar Sederhana, Fokus Dampak Perang Iran dan Amerika Serikat

        KTT ASEAN Bakal Digelar Sederhana, Fokus Dampak Perang Iran dan Amerika Serikat Kredit Foto: Fajar Sulaiman
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN) ke-48 akan tetap digelar pada 8–9 Mei 2026. Ia akan hadir meski situasi geopolitik tengah memanas akibat perang dari Amerika Serikat dan Iran.

        Presiden Philippines, Ferdinand Marcos Jr., memastikan bahwa acara tersebut akan tetap digelar. Namun ia menegaskan bahwa pertemuan tersebut akan berlangsung secara sederhana dengan fokus terbatas pada isu-isu utama yang paling mendesak bagi Asia Tenggara.

        Baca Juga: Uni Eropa Ungkap Cara Rusia Bantu Iran Menyerang Amerika Serikat

        Menurut Marcos, pertemuan kali ini akan menitikberatkan pembahasan pada tiga isu utama, yakni harga minyak, harga pangan dan perlindungan pekerja migran. Keputusan ini diambil di tengah meningkatnya tekanan ekonomi akibat lonjakan harga energi, yang dipicu konflik di Timur Tengah.

        Ia menyebut pertemuan tersebut akan menjadi barebone summit atau pertemuan dengan agenda terbatas, agar diskusi lebih fokus dan efektif dalam merespons krisis yang sedang berlangsung.

        Marcos mengungkapkan bahwa dirinya juga telah berkonsultasi dengan para pemimpin negara anggota Association of Southeast Asian Nations. Meski awalnya ada wacana penundaan, hamun hasil diskusi menunjukkan bahwa negara-negara kawasan justru sepakat untuk tetap melanjutkan pertemuan.

        “Justru saat ini kita harus memperkuat koordinasi,” ujar Marcos.

        Ia menegaskan pentingnya kerja sama regional di tengah ketidakpastian global. Keputusan untuk tetap menggelar acara di tengah krisis global menunjukkan pentingnya koordinasi regional dalam menghadapi tantangan bersama.

        Adapun krisis terkait bersumber dari gangguan yang terjadi di Selat Hormuz. Selat tersebut selama ini menjadi jalur utama bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia. Ketegangan dalam kawasan tersebut telah menyebabkan volatilitas tinggi dalam pasar energi menyusul perang dari Israe, Amerika Serikat dan Iran.

        Prancis merespons gangguan tersebut dengan menginisiasi pembicaraan dengan puluhan negara untuk merancang misi pembukaan kembali Selat Hormuz. Meski demikian, pihaknya menegaskan bahwa hal itu dilakukan usai selesainya konflik dari Iran, Israel dan Amerika Serikat.

        Paris menegaskan bahwa inisiatif ini bersifat defensif dan tidak terkait langsung dengan operasi militer yang sedang berlangsung di Timur Tengah.

        Dalam rencana awal, misi internasional ini diperkirakan akan dilakukan dalam dua tahap. Pertama, negara-negara terkait akan melakukan pembersihan ranjau laut (mine-hunting). Hal itu nantinya dilanjutkan dengan pengamanan kapal tanker yang melintas di Selat Hormuz.

        Baca Juga: Amerika Serikat Bilang China Diam-diam Kirim Alat Pembuat Chip ke Iran

        Adapun Presiden Prancis, Emmanuel Macron sebelumnya menegaskan bahwa keterlibatan internasional baru akan dilakukan setelah konflik mereda, dengan mempertimbangkan stabilitas kawasan hingga persetujuan dari Iran.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: