Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

ASEAN Waspada Dampak Konflik Global, Airlangga Dorong Ketahanan Energi

ASEAN Waspada Dampak Konflik Global, Airlangga Dorong Ketahanan Energi Kredit Foto: Azka Elfriza
Warta Ekonomi, Jakarta -

Negara-negara ASEAN mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak konflik global yang berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi kawasan. Ancaman gangguan pasokan energi, lonjakan harga komoditas, hingga perlambatan ekonomi kini menjadi perhatian utama para menteri ekonomi ASEAN.

Di tengah situasi tersebut, Airlangga Hartarto mendorong penguatan ketahanan energi regional sebagai langkah antisipasi menghadapi disrupsi global. Hal itu disampaikan Airlangga saat mewakili pemerintah Indonesia dalam Pertemuan ke-27 ASEAN Economic Community Council di Cebu, Filipina.

Menurut Airlangga, kawasan ASEAN perlu memperkuat kerja sama energi, pangan, dan rantai pasok agar mampu menjaga stabilitas ekonomi regional. Ia menilai situasi global saat ini menuntut respons bersama antarnegara ASEAN.

“Untuk mengatasi disrupsi, diperlukan ketahanan energi, optimalisasi platform kerja sama yang ada, dan fokus pada penguatan perdagangan antar anggota ASEAN,” kata Airlangga dikutip dari ANTARA.

Ia juga menyinggung pentingnya memanfaatkan kerja sama strategis seperti Regional Comprehensive Economic Partnership dan jaringan energi ASEAN.

Selain itu, Airlangga mendorong diversifikasi sumber serta jalur pasokan energi di kawasan. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengurangi risiko gangguan distribusi akibat konflik geopolitik dunia.

“Selain itu, pemanfaatan kekuatan sentralitas ASEAN diperlukan untuk membangun supply chain resilience di kawasan,” tambahnya.

Penguatan rantai pasok dinilai menjadi kunci menjaga ketahanan ekonomi ASEAN.

Keketuaan ASEAN tahun 2026 yang dipegang Filipina disebut menghadapi tantangan berat akibat memanasnya konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Situasi tersebut mulai memicu keterbatasan pasokan energi serta kenaikan harga pangan dan komoditas di kawasan.

Untuk pertama kalinya sejak pandemi, ASEAN juga mulai menghadapi ancaman perlambatan ekonomi regional. Tekanan global disebut semakin memengaruhi stabilitas ekonomi negara-negara Asia Tenggara.

Kepala Ekonomi ASEAN+3 Macroeconomic Research Office (AMRO) Dong He mengingatkan adanya risiko gangguan pasokan energi dan pestisida akibat kebijakan global. Kondisi itu dinilai dapat memicu inflasi tinggi hingga depresiasi nilai tukar di kawasan ASEAN.

AMRO bahkan mengindikasikan ancaman stagflasi mulai menghantui kawasan. Tekanan tersebut disebut menjadi yang terkuat sejak tahun 2011.

Baca Juga: Airlangga Tekankan UMKM Harus Melek Risiko Digital

Di tengah situasi tersebut, berbagai lembaga regional mulai mengusulkan langkah mitigasi bersama. Mulai dari penguatan koordinasi industri hingga pembiayaan untuk menjaga stabilitas pasar dan ketahanan energi.

Bank Pembangunan Asia atau Asian Development Bank juga menyatakan kesiapan membantu penguatan ketahanan energi dan pangan ASEAN. Langkah itu diharapkan mampu menahan gejolak ekonomi kawasan di tengah tekanan global yang terus meningkat.

Dengan kondisi geopolitik yang semakin tidak menentu, ASEAN kini didorong untuk memperkuat solidaritas ekonomi regional. Ketahanan energi dinilai menjadi salah satu kunci utama agar kawasan mampu bertahan menghadapi tekanan global.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Amry Nur Hidayat