Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Harga BBM AS Naik Rp17.000 per Liter setelah Konflik Iran Meletus, Ini Dampaknya ke Indonesia

        Harga BBM AS Naik Rp17.000 per Liter setelah Konflik Iran Meletus, Ini Dampaknya ke Indonesia Kredit Foto: My Pertamina
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Lonjakan harga bahan bakar mulai terlihat di Amerika Serikat setelah konflik dengan Iran memicu gangguan pada pasar energi global. Kenaikan ini menjadi sinyal awal tekanan yang bisa merambat ke berbagai negara, termasuk Indonesia.

        Data dari American Automobile Association menunjukkan harga bensin jenis regular di Washington naik tajam dalam sebulan terakhir. Per 28 Maret, harga rata-rata mencapai 4,138 dolar AS per galon atau sekitar Rp65.300, dari sebelumnya 3,106 dolar AS atau sekitar Rp49.000.

        Jika dikonversi ke liter, harga tersebut setara dengan sekitar Rp17.200 per liter dari sebelumnya Rp12.900 per liter. Kenaikan ini menunjukkan lonjakan signifikan dalam waktu relatif singkat.

        Kenaikan juga terjadi secara nasional di Amerika Serikat. Rata-rata harga bensin kini berada di level 3,976 dolar AS per galon, naik dari 2,982 dolar AS pada bulan sebelumnya.

        Untuk jenis premium, lonjakan terlihat lebih tinggi. Di Washington, harga mencapai 5,087 dolar AS per galon, dari sebelumnya 4,119 dolar AS.

        Secara nasional, harga premium juga meningkat menjadi 4,864 dolar AS per galon. Tren ini memperlihatkan tekanan merata pada seluruh jenis bahan bakar.

        Lonjakan harga ini terjadi setelah operasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari. Serangan tersebut menargetkan sejumlah kota penting, termasuk Teheran, dengan alasan ancaman nuklir dan rudal.

        Sebagai balasan, Islamic Revolutionary Guard Corps melancarkan serangan ke berbagai target, termasuk wilayah Israel dan sejumlah pangkalan militer Amerika di kawasan Timur Tengah.

        Eskalasi ini memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global, terutama di jalur vital seperti Selat Hormuz. Jalur tersebut menjadi salah satu rute utama distribusi minyak dunia.

        Gangguan di kawasan itu kerap berdampak langsung pada harga minyak mentah global. Kenaikan harga minyak biasanya diikuti lonjakan biaya distribusi energi di berbagai negara.

        Indonesia termasuk negara yang berpotensi terdampak karena masih mengandalkan impor minyak untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Ketergantungan ini membuat harga energi domestik sensitif terhadap gejolak global.

        Data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menunjukkan sebagian kebutuhan minyak nasional masih dipenuhi dari luar negeri. Kondisi ini membuat perubahan harga global cepat terasa pada biaya pengadaan energi.

        Selain itu, laporan Bank Indonesia dalam beberapa periode sebelumnya juga menunjukkan bahwa kenaikan harga energi global berkontribusi terhadap tekanan inflasi domestik. Dampaknya terutama terasa pada sektor transportasi dan logistik.

        Baca Juga: Serangan ke Iran Dinilai Ilegal, Turki: Timur Tengah di Ambang Perang Besar

        Kenaikan biaya energi biasanya akan merembet ke harga barang dan jasa. Hal ini terjadi karena distribusi barang di Indonesia masih sangat bergantung pada bahan bakar.

        Situasi global yang belum stabil membuat tekanan terhadap harga energi diperkirakan masih berlanjut. Jika konflik terus memanas, dampaknya tidak hanya dirasakan di kawasan Timur Tengah, tetapi juga negara lain termasuk Indonesia.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Wahyu Pratama
        Editor: Ferry Hidayat

        Bagikan Artikel: