Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Seluruh Aset Disita, China Jatuhkan Sanksi Berat ke Politisi Jepang

        Seluruh Aset Disita, China Jatuhkan Sanksi Berat ke Politisi Jepang Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Hubungan China dan Jepang kembali memanas akibat isu terkait dengan Taiwan. Beijing baru-baru ini menjatuhkan sanksi terhadap Anggota Parlemen Japan, Keiji Furuya.

        Kementerian Luar Negeri China menyatakan bahwa sang politikus akan dilarang masuk ke wilayahnya. Beijing juga akan seluruh aset milik dari Furuya. Langkah tersebut diambil setelah anggota parlemen itu beberapa kali melakukan kunjungan ke Taiwan.

        Baca Juga: Hubungan dengan Filipina Memanas, China Gelar Patroli di LCS

        Beijing menilai kunjungan tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap gerakan separatis dan pelanggaran terhadap prinsip dari Satu China. Pihaknya secara konsisten menentang kunjungan resmi politisi asing ke Taiwan.

        Furuya sendiri menanggapi sanksi tersebut dengan menyatakan bahwa kunjungan merupakan bagian dari tugasnya sebagai anggota kelompok parlemen yang menghubungkan politikus dari Taiwan dan Jepang.

        Selain itu, dirinya juga menegaskan bahwa ia tidak memiliki aset di China. Furuya juga menyinggung bahwa dirinya sudah lama tidak mengunjungi negara tersebut.

        Sanksi ini menambah ketegangan dalam hubungan bilateral antara China dan Jepang. Hubungan keduanya diketahui memburuk akibat pernyataan kontroversial dari  Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi.

        Takaichi sebelumnya menyatakan bahwa pihaknya dapat merespons secara militer jika terjadi serangan dari China ke Taiwan. Pernyataan tersebut memicu reaksi keras dari Beijing.

        Jepang juga berencana menurunkan status hubungan diplomatiknya dengan China. Hal ini diketahui melalui laporan tahunan di Japan Diplomatic Bluebook 2026.

        Tokyo sebelumnya menyebut negara tetangganya itu sebagai salah satu mitra paling penting. Nantinya, China hanya akan dilihat sebagai tetangga penting dengan hubungan yang bersifat strategis dan saling menguntungkan.

        Perubahan istilah ini mencerminkan memburuknya hubungan kedua negara dalam setahun terakhir, yang ditandai oleh berbagai insiden seperti pembatasan ekspor logam tanah jarang, tekanan militer hingga insiden radar lock-on terhadap pesawat militer dari Jepang.

        Baca Juga: Prabowo ke Jepang, Fokus Perkuat Kerja Sama Teknologi dan Dorong Investasi

        Sanksi China dengan ini mencerminkan meningkatnya tensi hubungan dari Beijing dan Tokyo. Dengan tidak adanya sinyal pendinginan, risiko ketegangan keduanya diperkirakan akan tetap tinggi dalam waktu ke depan.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Aldi Ginastiar

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: