Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Lonjakan Pemudik dan Panic Buying Bikin Konsumsi BBM Selama RAFI 2026 Melonjak dari Proyeksi

        Lonjakan Pemudik dan Panic Buying Bikin Konsumsi BBM Selama RAFI 2026 Melonjak dari Proyeksi Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Erika Retnowati, Kepala Posko Nasional Ramadan dan Idulfitri (RAFI) 1447 H Satuan Tugas Sektor ESDM, melaporkan terjadinya peningkatan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) yang melampaui proyeksi awal, selama periode RAFI 2026.

        Kenaikan tersebut dipicu oleh tingginya mobilitas masyarakat saat mudik, serta adanya panic buying di sejumlah wilayah.

        Erika menjelaskan, konsumsi gasoline atau bensin yang semula diproyeksikan naik sebesar 12 persen, pada realisasinya meningkat hingga sekitar 15 persen.

        "Jadi memang diproyeksikan waktu itu diperkirakan kenaikan sekitar 12 persen, tetapi ternyata realisasinya mencapai hampir 15 persen."

        "Antara lain memang ada panic buying, tetapi tidak banyak, hanya di beberapa daerah saja."

        "Namun memang jumlah orang yang mudik kali ini luar biasa," ujar Erika dalam penutupan Posko Sektor ESDM di BPH Migas, Jakarta, Selasa (31/3/2026).

        Selain tingginya jumlah pemudik, Erika menyebut durasi libur yang lebih panjang juga menjadi faktor pendorong meningkatnya konsumsi BBM selama periode RAFI.

        Perubahan proyeksi juga terjadi pada jenis BBM lainnya.

        Konsumsi gasoil atau diesel yang sebelumnya diperkirakan turun sebesar 14,5 persen, realisasinya justru turun lebih dalam hingga 18 persen.

        Sementara, konsumsi avtur yang awalnya diproyeksikan meningkat 2,8 persen, melonjak hingga 7,2 persen.

        Penyaluran BBM jenis gasoline secara nasional mencatatkan peningkatan tertinggi pada periode arus mudik yang terjadi pada 19 Maret 2026.

        Pada tanggal tersebut, penyaluran gasoline meningkat hingga 37 persen dibandingkan kondisi normal.

        Sementara, pada periode arus balik, peningkatan tertinggi terjadi pada 25 Maret 2026, dengan kenaikan sebesar 20 persen dari penyaluran normal.

        Peningkatan penyaluran juga terjadi pada produk avtur yang mendukung aktivitas transportasi udara.

        Puncak kenaikan avtur selama arus mudik tercatat pada 18 Maret 2026, dengan peningkatan sebesar 18 persen dibandingkan penyaluran normal.

        Sedangkan pada periode arus balik, kenaikan tertinggi terjadi pada 29 Maret 2026, dengan peningkatan mencapai 22 persen dari kondisi normal.

        Tren peningkatan konsumsi energi tersebut menjadi perhatian nasional, terutama di tengah dinamika geopolitik global, yang berpotensi memengaruhi stabilitas energi dan harga komoditas.

        Meski demikian, Ketua BPH Migas Wahyudi Anas menegaskan, hingga saat ini distribusi dan pembelian BBM masih berjalan normal.

        Ia menyebut keputusan terkait penyesuaian distribusi BBM sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintah.

        "Hingga saat ini pembelian BBM normal, baik itu yang subsidi dan kompensasi negara, termasuk untuk jenis bahan bakar umum lainnya."

        "Tidak ada pembatasan maupun penyesuaian."

        "Jadi sabar saja, karena semua akan diukur dan ditetapkan oleh pemerintah, kuncinya ada di sana," tutur Wahyudi.

        Sementara, Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga Eko Ricky Susanto menyampaikan, penyesuaian harga BBM nonsubsidi dijadwalkan berlangsung pada 1 April 2026.

        Baca Juga: Pemerintah Pastikan Harga BBM Tidak Naik per 1 April 2026

        "Jadi mohon bersabar, kebijakannya seperti apa."

        "Nanti kalau ingin melihat apakah terjadi penyesuaian, bisa melihat secara resmi di website kami di pertamina.com," cetus Eko. (*)

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Yaspen Martinus

        Bagikan Artikel: