Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Pemerintah secara resmi menetapkan jadwal penerapan kebijakan biodiesel 50% atau B50, pada 1 Juli mendatang.
Langkah strategis ini diambil sebagai bagian dari peta jalan diversifikasi energi nasional untuk memperkuat ketahanan energi, serta mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar fosil.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, keputusan ini didasarkan pada hasil uji coba teknis yang telah berlangsung selama enam bulan terakhir.
Uji coba tersebut mencakup berbagai sektor transportasi berat dan logistik, untuk memastikan kinerja mesin.
“B50 sudah hampir enam bulan kami melakukan uji pakai di beberapa peralatan seperti alat berat, kapal, kereta api, kemudian truk, dan sekarang masih bergulir terus."
"Tetapi sebentar lagi akan final, dan sampai dengan hari ini uji cobanya alhamdulillah cukup baik."
"Dan 1 Juli mulai diterapkan implementasi B50,” ujar Bahlil di KESDM, Jakarta, Senin (5/4/2026).
Bahlil menjelaskan, program percepatan B50 merupakan langkah antisipatif pemerintah di tengah peluncuran pasar energi global.
Menurutnya, diversifikasi energi nabati menjadi instrumen vital, agar Indonesia memiliki kemandirian dalam mengatasi harga dan pasokan minyak mentah dunia.
"Inilah kenapa pemerintah dari awal itu mencari energi alternatif."
"Dulu kan kalian ketawain gue kan, ketika saya mencanangkan untuk B50 dan etanol."
"Bayangkan sekarang kalau tidak ada kita diversifikasi, kita mau berharap kepada siapa?" Tuturnya.
Uji Coba Menuju Finalisasi
Meskipun implementasi penuh dijadwalkan pada awal Juli, Bahlil menyebutkan proses pemantauan teknis masih terus berjalan hingga tahap finalisasi.
Sejauh ini, kinerja campuran 50% bahan bakar nabati (BBN) tersebut dinilai cukup adaptif terhadap mesin-mesin industri dan transportasi massal.
“Sampai dengan hari ini uji cobanya alhamdulillah cukup baik,” imbuh Bahlil.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya dukungan dari berbagai pihak terhadap kebijakan transisi energi ini.
Menurutnya, keberhasilan program B50 bukan hanya soal penyediaan kuota energi, melainkan kepentingan strategi bangsa dalam jangka panjang.
Baca Juga: Kejar Target Swasembada Energi, Etanol Hingga Biodiesel Bakal Dioptimalkan
"Jadi kalau boleh teman-teman media juga mendukung deh apa yang dibuat oleh pemerintah, dalam konteks kebaikan rakyat bangsa dan negara ya," cetusnya.
Penerapan B50 ini diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap neraca perdagangan nasional melalui pengurangan impor solar, sekaligus memberikan nilai tambah bagi industri kelapa sawit di dalam negeri, sebagai bahan baku utama biodiesel. (*)
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Yaspen Martinus