Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Rupiah Melemah ke Rp17.105, Dipicu Blokade AS ke Iran

        Rupiah Melemah ke Rp17.105, Dipicu Blokade AS ke Iran Kredit Foto: Antara/Dhemas Reviyanto
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah tipis ke level Rp17.105 pada perdagangan Senin (13/4/2026). Mata uang Garuda melemah satu poin dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.104 per dolar AS.

        Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah dipicu oleh blokade AS menyusul kegagalan perundingan perdamaian antara AS dan Iran pada akhir pekan.

        "Komando Pusat AS mengatakan pasukan AS akan mulai menerapkan blokade semua lalu lintas maritim yang masuk dan keluar pelabuhan Iran pada pukul 10 pagi ET (14.00 GMT) pada hari Senin," kata dia kepada wartawan.

        Blokade tersebut akan diberlakukan secara imparsial terhadap kapal-kapal dari semua negara yang memasuki atau meninggalkan pelabuhan dan wilayah pesisir Iran. Ini termasuk seluruh pelabuhan Iran di Teluk Arab dan Teluk Oman.

        Pasukan AS disebut tidak akan menghalangi kebebasan navigasi bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz ke dan dari pelabuhan non-Iran. Informasi tambahan akan diberikan kepada pelaut komersial melalui pemberitahuan resmi sebelum dimulainya blokade, demikian pernyataan tersebut.

        Sebaliknya, Garda Revolusi Iran mengatakan pada Minggu bahwa setiap kapal militer yang mencoba mendekati Selat Hormuz akan dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata dan akan ditindak dengan keras dan tegas.

        Sementara dari sisi domestik, pelemahan rupiah terjadi setelah Bank Pembangunan Asia atau Asian Development Bank(ADB) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,2% pada 2026. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan realisasi tahun lalu sebesar 5,1%, tetapi masih di bawah target pemerintah sebesar 5,4%.

        "Proyeksi tersebut masih dalam rentang target inflasi Bank Indonesia (BI) sebesar 2,5±1%," ungkap dia.

        Meski prospek ekonomi Indonesia dinilai tetap baik, ADB mengingatkan sejumlah risiko yang dapat mengganggu stabilitas. Ketegangan geopolitik global dan fluktuasi harga energi masih menjadi ancaman utama.

        Baca Juga: Gagalnya Diplomasi AS-Iran, Rupiah Bisa Jebol ke Rp17.400

        Baca Juga: Demi Jaga Rupiah, Cadangan Devisa RI Turun Jadi US$148,2 Miliar di Maret 2026

        Baca Juga: Wamenkeu RI: Rupiah Tembus Rp 17.105 Sudah Masuk Skenario Stress Test

        Selain itu, kebijakan moneter negara maju, khususnya Amerika Serikat, yang tetap ketat dalam jangka waktu lebih lama (higher for longer) berpotensi memicu volatilitas aliran modal di pasar keuangan negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia.

        "Oleh sebab itu, ADB menyarankan agar pemerintah terus mempercepat reformasi struktural guna meningkatkan produktivitas dan daya saing nasional," ungkap dia.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dwi Aditya Putra
        Editor: Annisa Nurfitri

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: