Trump: Negosiasi Amerika Serikat-Iran Bisa Dilanjutkan di Pakistan
Kredit Foto: Reuters
Amerika Serikat memberikan sinyal adanya negosiasi lanjutan untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung lebih satu bulan lamanya dengan Iran. Keduanya berpotensi untuk kembali duduk dalam meja perundingan di Pakistan.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengatakan bahwa pembicaraan dengan mereka berpotensi kembali dilanjutkan dalam waktu dekat. Menurut Trump, perkembangan signifikan bisa terjadi dalam dua hari ke depan.
Baca Juga: Kecam Paus Leo, Aksi Trump Bikin Sekutu Amerika Serikat Jengah
"Sebaiknya tetap di sana, karena sesuatu mungkin akan terjadi dalam dua hari ke depan dan kami lebih cenderung untuk pergi ke sana," kata Trump.
Pakistan menurutnya bisa kembali menjadi lokasi utama negosiasi antara kedua negara. Peran Islamabad semakin penting setelah sebelumnya menjadi tuan rumah pembicaraan tingkat tinggi antara Washington dan Teheran.
Trump dalam hal ini memuji peran dari Kepala Angkatan Darat Pakistan, Asim Munir. Menurutnya, ia memiliki kemampuan yang mumpuni dalam memfasilitasi dialog dari Amerika Serikat dan Pakistan.
“Dia luar biasa, melakukan pekerjaan yang hebat dalam pembicaraan ini dan karena itu kemungkinan besar kami akan kembali ke sana," kata Trump.
Sebelumnya, Wakil Presiden Amerika Serikat, James David Vance mengatakan bahwa keputusan untuk melanjutkan negosiasi kini berada di Teheran. Vance menegaskan bahwa pihaknya telah mengajukan berbagai proposal dalam perundingan tersebut.
“Apakah kita akan melakukan pembicaraan lebih lanjut, apakah kita akhirnya mencapai kesepakatan, saya benar-benar berpikir bola ada di tangan mereka karena kita telah mengajukan banyak hal,” kata Vance.
Vance menekankan bahwa kesepakatan hanya dapat tercapai jika negara tersebut memenuhi “garis merah” tuntutannya, terutama terkait ambisi nuklir. Menurutnya, jika syarat tersebut dipenuhi, kesepakatan berpotensi menguntungkan kedua pihak.
Diketahui, Pembicaraan Islamabad gagal membuatkan kesepakatan antara Washington dan Teheran. Ia sendiri merupakan pertemuan langsung pertama dalam lebih dari satu dekade dari Iran dan Amerika Serikat. Ia juga merupakan dialog tingkat tertinggi sejak Revolusi Islam Iran 1979
Namun, perundingan tersebut gagal menghasilkan kesepakatan konkret untuk mengakhiri konflik. Menurut Washington, Iran menolak sejumlah tuntutan utama antara lain menghentikan seluruh pengayaan uranium, membongkar fasilitas nuklir utama dan menyerahkan stok uranium yang telah diperkaya.
Amerika Serikat diketahui juga meminta mereka untuk menghentikan dukungan terhadap kelompok seperti Hamas, Hezbollah dan Houthi. Ia juga menuntut adanya pembukaan penuh akses dari Selat Hormuz.
Iran di sisi lain melaporkan tuntutan yang berlebihan dari Amerika Serikat. Hal tersebut menjadi penghambat utama tercapainya kesepakatan. Neberapa isu sebenarnya telah mencapai titik temu, namun dua hal utama masih menjadi ganjalan yakni program nuklir hingga kontrol dan akses dari Selat Hormuz.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf mengkritik sikap dari Amerika Serikat. Menurutnya, Washington adalah penyebab kegagalan negosiasi damai yang dijalankan keduanya di Islamabad, Pakistan.
Baca Juga: Bela Paus Leo, Presiden Iran Kecam Trump: Dia Sudah Menistakan Agama
Menurut Qalibaf, Amerika Serikat telah gagal membangun kepercayaan dalam perundingan kedua negara. Ia menyebut timnya telah menawarkan berbagai inisiatif “berpandangan ke depan”, namun hal tersebut malah direspons dengan agenda berbeda yang menghambat kesepakatan dari Washington.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: