Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        PBB Bawakan Kabar Baik Soal Negosiasi Amerika Serikat-Iran

        PBB Bawakan Kabar Baik Soal Negosiasi Amerika Serikat-Iran Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memberikan sinyal adanya kelanjutan negosiasi dari Amerika Serikat dan Iran. Negosiasi tersebut berpotensi menghentikan perang keduanya yang sudah berlangsung lebih dari satu bulan di Timur Tengah.

        Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Antonio Guterres, menyatakan bahwa peluang dimulainya kembali negosiasi untuk mengakhiri perang keduanya sangat besar. Ia kemungkinan akan kembali digelar di Pakistan.

        Baca Juga: Bela Paus Leo, Presiden Iran Kecam Trump: Dia Sudah Menistakan Agama

        "Indikasi yang kami miliki menunjukkan bahwa kemungkinan besar pembicaraan ini akan dimulai kembali," kata Guterres.

        Guterres mengungkapkan bahwa ia telah bertemu dengan pejabat tinggi setempat, dan memuji peran negara tersebut dalam mendorong proses perdamaian. Pakistan sebelumnya menjadi tuan rumah pembicaraan dari Iran dan Amerika Serikat. Ia berperan sebagai mediator utama.

        Guterres menekankan bahwa konflik yang kompleks tidak dapat diselesaikan dalam satu putaran perundingan. Menurutnya, Washington dan Teheran kemungkinan besar harus melakukan negosiasi bertahap sembali melakukan gencata senjata di Timur Tengah.

        Ia juga menegaskan bahwa keberlanjutan gencatan senjata menjadi faktor krusial agar negosiasi dapat berjalan efektif. Menurutnya, proses diplomasi harus disertai stabilitas di lapangan.

        "Saya pikir tidak realistis untuk mengharapkan masalah yang begitu kompleks, masalah yang berkepanjangan, dapat diselesaikan pada sesi pertama negosiasi. Jadi kita perlu negosiasi untuk terus berlanjut, dan kita perlu gencatan senjata untuk tetap berlaku selama negosiasi berlangsung," katanya.

        Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengatakan bahwa pembicaraan dengan mereka berpotensi kembali dilanjutkan  dalam waktu dekat. Menurut Trump, perkembangan signifikan bisa terjadi dalam dua hari ke depan.

        "Sebaiknya tetap di sana, karena sesuatu mungkin akan terjadi dalam dua hari ke depan dan kami lebih cenderung untuk pergi ke sana," kata Trump.

        Pakistan menurutnya bisa kembali menjadi lokasi utama negosiasi antara kedua negara. Peran Islamabad semakin penting setelah sebelumnya menjadi tuan rumah pembicaraan tingkat tinggi antara Washington dan Teheran.

        Diketahui, Pembicaraan Islamabad yang pertama gagal membuatkan kesepakatan antara Washington dan Teheran. Ia sendiri merupakan pertemuan langsung pertama dalam lebih dari satu dekade dari Iran dan Amerika Serikat. Ia juga merupakan dialog tingkat tertinggi sejak Revolusi Islam Iran 1979

        Namun, perundingan tersebut gagal menghasilkan kesepakatan konkret untuk mengakhiri konflik. Menurut Washington, Iran menolak sejumlah tuntutan utama antara lain menghentikan seluruh pengayaan uranium, membongkar fasilitas nuklir utama dan menyerahkan stok uranium yang telah diperkaya.

        Amerika Serikat diketahui juga meminta mereka untuk menghentikan dukungan terhadap kelompok seperti Hamas, Hezbollah dan Houthi. Ia juga menuntut adanya pembukaan penuh akses dari Selat Hormuz.

        Iran di sisi lain melaporkan tuntutan yang berlebihan dari Amerika Serikat. Hal tersebut menjadi penghambat utama tercapainya kesepakatan. Neberapa isu sebenarnya telah mencapai titik temu, namun dua hal utama masih menjadi ganjalan yakni program nuklir hingga kontrol dan akses dari Selat Hormuz.

        Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf mengkritik sikap dari Amerika Serikat. Menurutnya, Washington adalah penyebab kegagalan negosiasi damai yang dijalankan keduanya di Islamabad, Pakistan.

        Baca Juga: Dari Kawan Jadi Lawan, Trump Bikin Publik Italia Marah Gegara Kecam Paus Leo

        Menurut Qalibaf, Amerika Serikat telah gagal membangun kepercayaan dalam perundingan kedua negara. Ia menyebut timnya telah menawarkan berbagai inisiatif “berpandangan ke depan”, namun hal tersebut malah direspons dengan agenda berbeda yang menghambat kesepakatan dari Washington.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: