Dialog Memanas dengan Mahasiswa, Budiman Sudjatmiko Klaim Ingin Melakukan Perubahan dari Dalam
Kredit Foto: Antara/Fauzan
Dialog publik bertajuk 'Indonesia Emas atau Cemas? Telaah Kritis Indonesia Hari Ini' yang digelar di Kafka Forum, Semarang, diwarnai ketegangan.
Sejumlah mahasiswa melayangkan pertanyaan kritis kepada mantan aktivis 98 sekaligus Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) RI, Budiman Sudjatmiko, pada Jumat (12/6/2026) siang.
Kritik tajam salah satunya datang dari Ketua Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Semarang, Bima Prayuda.
Ia mempertanyakan konsistensi dan posisi politik Budiman yang saat ini memilih berada di dalam lingkaran pemerintahan setelah sekian lama dikenal sebagai tokoh aktivis reformasi.
"Apakah Bung Budiman masuk sistem dengan menjinakkannya, atau sistem yang menjinakkan Bapak?," tanya Bima secara langsung saat sesi tanya jawab berlangsung.
Suasana diskusi semakin memanas sekitar pukul 14.30 WIB ketika Ketua HMI Komisariat FISIP Universitas Diponegoro (Undip), Muhammad Rafli Susanto, melayangkan kecaman terhadap narasi idealisme yang dipaparkan oleh Budiman. Rafli menilai gagasan yang disampaikan tidak menyentuh akar permasalahan rakyat.
"Bapak jangan bicara soal keidealan negara kalau bapak tidak pernah memikirkan ide atau solusi yang menyentuh akar rakyat, seperti persoalan petani Pundenrejo. Pikirkan hal demikian, jangan cacat logika terus," tegas Rafli.
Merespons hal tersebut, Budiman sempat meminta Rafli untuk mengelaborasi argumennya. Namun, Rafli menolak permintaan tersebut dengan alasan harus segera mengikuti aksi unjuk rasa yang sedang berlangsung di Semarang, sembari menantang Budiman untuk berdiskusi kembali di luar forum.
Budiman yang merasa forum diskusi tersebut tidak dihormati langsung memberikan jawaban menohok sebelum Rafli meninggalkan ruangan.
"Orang-orang tertarik dengan argumen Anda. Anda pernah dipenjara tiga bulan, bukan berarti Anda lebih hebat dan berhak untuk tidak menghormati forum ini," katanya.
"Anda bukan siapa-siapa. Silakan pergi," ujar Budiman.
Rafli kemudian keluar dari forum, dan diskusi tetap dilanjutkan dengan peserta lain.
Dialog ini dihadiri oleh berbagai organisasi mahasiswa ekstra kampus (Ormek) yang tergabung dalam HMI, PMKRI, KAMMI, dan GMKI.
Selain mempertanyakan posisi politik Budiman, para mahasiswa juga mengkritisi sejumlah isu krusial nasional, mulai dari kesiapan visi Indonesia Emas 2045, penyempitan ruang sipil, hingga isu intervensi militer dalam ranah sipil.
Menanggapi seluruh gelombang kritik tersebut, Budiman Sudjatmiko menegaskan bahwa keputusannya bergabung dengan pemerintah merupakan bentuk transformasi gerakan aktivismenya.
Menurut mantan politikus yang dipecat dari PDIP itu menyebut masuk ke dalam sistem pemerintahan adalah strategi untuk mendorong perubahan dari dalam serta memperjuangkan hak masyarakat miskin melalui instrumen kebijakan negara.
Sebelum ketegangan terjadi, Budiman sempat memaparkan materi mengenai arah pembangunan nasional, yang menurutnya merupakan kolaborasi taktis antara pemikiran geopolitik dan ekonomi dari Soekarno serta Soemitro Djojohadikusumo.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Ferry Hidayat