Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Cegah Longsor Susulan, Freeport Bangun Terowongan Mitigasi 3 Km di Tambang Bawah Tanah

        Cegah Longsor Susulan, Freeport Bangun Terowongan Mitigasi 3 Km di Tambang Bawah Tanah Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        PT Freeport Indonesia (PTFI) sedang membangun infrastruktur mitigasi raksasa, guna mengunci risiko keselamatan di tambang bawah tanah terbesar dunia, Grasberg, Papua.

        Langkah ini merupakan respons korektif pasca-tragedi longsoran material basah (wet muck) pada 8 September 2025, yang merenggut nyawa tujuh pekerja dan melumpuhkan produksi Freeport.

        Direktur Utama PTFI Tony Wenas mengungkapkan, perusahaan kini fokus membangun "jalur pengaman" khusus sepanjang 3 kilometer.

        Fasilitas ini dirancang untuk mengisolasi material lumpur berbahaya, agar tidak lagi bersentuhan dengan area kerja penambangan aktif.

        "Namun yang terpenting dari sini adalah kami sedang memastikan seluruh infrastruktur, khususnya di daerah Grasberg yang terkenal longsoran itu."

        "Dilakukan betul-betul secara hati-hati," ujar Tony Wenas dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR, Senin (13/4/2026).

        Bypass Lumpur Sepanjang 3 Kilometer

        Inovasi utama dalam sistem keamanan baru ini adalah pembangunan terowongan khusus yang berfungsi sebagai bypass material basah.

        Tony menjelaskan secara teknis bagaimana terowongan ini akan memisahkan lumpur dari bijih yang sedang ditambang, guna mencegah kecelakaan fatal di masa depan.

        "Ada rencana untuk pembangunan terowongan baru sepanjang sekitar 3 kilometer, yang akan membawa khusus untuk lumpuran material-material basah itu."

        "Sehingga dia langsung akan pergi ke drilling needs level, tidak melewati lagi bijih yang akan kami tambang," jelas Tony.

        Selain terowongan bypass, Freeport juga mengintensifkan metode drift drilling ke arah atas.

        Teknik ini berfungsi mengalirkan cairan dan lumpur yang terjebak di lapisan atas secara terkontrol, sehingga tidak menumpuk menjadi tekanan berbahaya yang dapat memicu ledakan lumpur secara tiba-tiba.

        Refleksi Tragedi dan Pemulihan 2026

        Pembangunan infrastruktur masif ini merupakan bentuk komitmen manajemen atas insiden maut tahun lalu.

        Tony mengenang betapa beratnya keputusan menghentikan total operasional selama lebih dari sebulan, demi proses evakuasi tujuh korban dan investigasi menyeluruh.

        "Terjadi longsoran material basah yang mengakibatkan korban meninggal 7 orang."

        "Dan kami memang saat kejadian itu terjadi, kami hentikan seluruh kegiatan operasional di seluruh tambang."

        "Jadi berhenti total, baru mulai menambang lagi pada tanggal 20 Oktober tahun 2025," bebernya.

        Insiden tersebut sempat memangkas produksi tembaga PTFI hingga 30%, dan emas sebesar 51% pada tahun 2025.

        Baca Juga: Setoran Jumbo PTFI ke Negara di 5 Tahun Terakhir, Indef: Penopang Vital Penerimaan Nasional

        Namun, dengan rampungnya infrastruktur keamanan baru dan proses pemulihan di Grasberg Block Caving (GBC) Blok 1, PTFI optimistis performa akan melesat pada 2026.

        Perusahaan memproyeksikan produksi emas akan kembali ke level 26 ton dan tembaga sebesar 1,1 miliar pound, dibarengi standar keselamatan kerja yang jauh lebih ketat. (*)

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Yaspen Martinus

        Bagikan Artikel: