Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Stok Dikuras Perang Iran, Amerika Serikat Lobi Ford hingga General Motors untuk Produksi Senjata

        Stok Dikuras Perang Iran, Amerika Serikat Lobi Ford hingga General Motors untuk Produksi Senjata Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Amerika Serikat dialporkan tengah membujuk eksekutif perusahaan lokal untuk membuka potensi ekspnasi menuju produksi senjata dan perlengkapan militer. Hal ini menyusul kebutuhan akan hal terkait, mengingat adanya perang dari Iran dan Washington.

        Dikutip dari Wall Street Journal, Departemen Perang Amerika Serikat dilaporkan telah menggelar pembicaraan dengan eksekutif perusahaan besar seperti General Motors dan Ford Motor. Mereka ingin dua perusahaan tersebut melirik potensi produksi senjata dan perlengkapan militer.

        Baca Juga: Amerika Serikat: China Akan Hentikan Impor Minyak Iran

        Pembicaraan yang bersifat awal ini sudah dimulai sebelum perang dari Iran. Namun berkat operasi tersebut, diskusi hal terkait kini menjadi semakin relevan. Washington ingin kedua perusahaan terlibat dalam produksi militer.

        Amerika Serikat juga ingin perusahaan serupa menambah kapasitas produksi di luar kontraktor pertahanan tradisional dan mempercepat suplai peralatan militer.

        Selain General Motors dan Ford Motors, pemerintah juga tengah melobi General Electric Aerospace dan Oshkosh Corporation. Amerika Serikat menanyakan apakah perusahaan-perusahaan ini mampu dengan cepat beralih ke produksi militer.

        Langkah ini mencerminkan kebutuhan mendesak untuk mengisi kembali stok senjata, dendukung operasi militer dan mengantisipasi konflik berkepanjangan, termasuk di Timur Tengah.

        Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya juga mengajukan peningkatan anggaran militer hingga US$1,5 triliun, termasuk tambahan sekitar US$500 miliar. Langkah ini bertujuan memperkuat kemampuan militer, mendukung produksi persenjataan dan menjaga keunggulan strategis dari Washington.

        Kongres Amerika Serikat juga menolak permintaannya soal dana tambahan sekitar US$200 miliar. Dana tersebut diketahui akan digunakan untuk membiayai perang dari Iran dan Amerika Serikat. Biaya konflik ini masih menjadi perdebatan utama di Capitol Hill.

        Perang Teheran dan Washington sendiri belum menemukan titik terang yang pasti. Sebelumnya, Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt menegaskan bahwa pembicaraan tetap berjalan dan dinilai produktif. Menurutnya, terdapat kemungkinan besar terjadinya negosiasi lanjutan dari Iran dan Amerika Serikat.

        “Diskusi ini terus berlangsung dan kami merasa baik dengan prospek tercapainya kesepakatan,” ujarnya.

        Amerika Serikat juga membuka peluang untuk kembali hadir dalam negosiasi secara tatap muka. Menurut Leavitt, jika pembicaraan tatap muka kembali digelar, besar kemungkinan akan berlangsung di Pakistan.

        "Saya juga melihat beberapa laporan tentang potensi diskusi tatap muka," kata Leavitt.

        Adapun, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Antonio Guterres, menyatakan bahwa peluang dimulainya kembali negosiasi untuk mengakhiri perang keduanya sangat besar. Ia kemungkinan akan kembali digelar di Pakistan.

        Guterres mengungkapkan bahwa ia telah bertemu dengan pejabat tinggi setempat, dan memuji peran negara tersebut dalam mendorong proses perdamaian. Pakistan sebelumnya menjadi tuan rumah pembicaraan dari Iran dan Amerika Serikat. Ia berperan sebagai mediator utama.

        Pembicaraan Islamabad yang pertama sendiri telah gagal membuatkan kesepakatan antara Washington dan Teheran. Ia sendiri merupakan pertemuan langsung pertama dalam lebih dari satu dekade dari Iran dan Amerika Serikat. Ia juga merupakan dialog tingkat tertinggi sejak Revolusi Islam Iran 1979.

        Namun, perundingan tersebut gagal menghasilkan kesepakatan konkret untuk mengakhiri konflik. Menurut Washington, Iran menolak sejumlah tuntutan utama antara lain menghentikan seluruh pengayaan uranium, membongkar fasilitas nuklir utama dan menyerahkan stok uranium yang telah diperkaya.

        Amerika Serikat diketahui juga meminta mereka untuk menghentikan dukungan terhadap kelompok seperti Hamas, Hezbollah dan Houthi. Ia juga menuntut adanya pembukaan penuh akses dari Selat Hormuz.

        Baca Juga: Tak Hanya Blokade Selat Hormuz, Amerika Serikat Ancam Sanksi Pembeli Minyak Iran

        Iran di sisi lain melaporkan tuntutan yang berlebihan dari Amerika Serikat. Hal tersebut menjadi penghambat utama tercapainya kesepakatan. Neberapa isu sebenarnya telah mencapai titik temu, namun dua hal utama masih menjadi ganjalan yakni program nuklir hingga kontrol dan akses dari Selat Hormuz.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Aldi Ginastiar

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: