Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Lebih dari 18 Juta Serangan Siber Mengintai Bisnis Asia Tenggara, Indonesia Masuk 3 Besar

        Lebih dari 18 Juta Serangan Siber Mengintai Bisnis Asia Tenggara, Indonesia Masuk 3 Besar Kredit Foto: Unsplash/ Stillness InMotion
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Perusahaan di Asia Tenggara menghadapi lebih dari 18 juta serangan siber berbasis web, sepanjang 2025.

        Indonesia menjadi salah satu negara dengan jumlah serangan tertinggi.

        Temuan ini menegaskan ancaman digital masih menjadi risiko serius bagi dunia usaha, di tengah pesatnya pertumbuhan ekonomi digital.

        Laporan dari Kaspersky mencatat total 18.015.162 deteksi serangan web terhadap pengguna bisnis di kawasan Asia Tenggara.

        Ancaman ini mencakup situs yang diretas, unduhan berbahaya, hingga berbagai vektor serangan online yang dapat membuka akses tanpa izin dan mengekspos data sensitif.

        Vietnam mencatat jumlah tertinggi dengan 8.437.695 serangan siber, disusul Malaysia dengan 3.361.453, dan Indonesia sebanyak 3.014.870 serangan.

        Thailand dan Singapura juga masing-masing mencatat lebih dari satu juta serangan sepanjang 2025 lalu.

        Fenomena ini tidak lepas dari tingginya aktivitas digital di kawasan.

        Menurut data Forum Ekonomi Dunia, nilai ekonomi digital Asia Tenggara saat ini diperkirakan mencapai 300 miliar dolar AS, dan diproyeksikan melonjak hingga 1 triliun dolar AS pada 2030.

        Managing Director Asia Pasifik Kaspersky Adrian Hia menyoroti peningkatan investasi teknologi akan berjalan seiring, kebutuhan keamanan siber.

        “Dalam pasar kita yang bergejolak saat ini, perusahaan di kawasan ini dengan tepat memprioritaskan pengeluaran untuk teknologi, yang akan meningkatkan keuntungan dan produktivitas mereka," ujarnya dalam keterangan resmi.

        Adrian menyebutkan, sebuah penelitian baru-baru ini bahkan menyoroti pengeluaran teknologi di Asia Pasifik akan meningkat sebesar 9,8% pada tahun 2026.

        "Karena serangan terhadap lingkungan perusahaan terus berkembang dalam kuantitas dan kompleksitasnya, saya yakin solusi dan layanan keamanan siber akan menjadi salah satu investasi teknologi utama yang akan diprioritaskan di sini tahun ini dan seterusnya,” tambahnya.

        Ancaman berbasis web mencakup berbagai risiko, mulai dari pencurian data, akses ilegal ke sistem, hingga gangguan layanan.

        Seiring berkembangnya teknologi seperti Internet of Things (IoT) dan konektivitas tinggi, potensi serangan juga semakin kompleks dan sulit dideteksi.

        Baca Juga: Kaspersky–BSSN Perbarui MoU, Perkuat Ketahanan Siber di Tengah Lonjakan Ancaman Digital

        Untuk itu, Kaspersky mendorong perusahaan memperkuat perlindungan, dengan memperbarui sistem secara berkala, menggunakan autentikasi dua faktor, serta mengadopsi solusi keamanan berbasis deteksi dan respons yang lebih canggih.

        Dengan lanskap ancaman yang terus berkembang, keamanan siber kini tidak lagi menjadi pilihan, melainkan kebutuhan utama bagi bisnis untuk menjaga operasional dan kepercayaan pengguna di era digital. (*)

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
        Editor: Yaspen Martinus

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: