Kredit Foto: Antara/Yusuf Nugroho
Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) menilai kerugian SugarCo sebesar Rp680 miliar perlu dilihat secara komprehensif, tidak semata-mata dikaitkan dengan faktor impor gula.
Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VI DPR RI bersama pemerintah dan pelaku industri gula, terungkap bahwa SugarCo mencatat kerugian hingga Rp680 miliar. Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara mengaitkan kondisi tersebut dengan potensi kebocoran distribusi gula rafinasi ke pasar konsumsi.
Ketua Umum APTRI, Soemitro Samadikoen, menyampaikan bahwa faktor manajerial dan kebijakan industri juga perlu menjadi perhatian dalam evaluasi kinerja industri gula nasional.
Menurutnya, diperlukan peninjauan menyeluruh terhadap pengelolaan perusahaan serta arah kebijakan yang mendukung keseimbangan antara sektor hulu dan hilir.
Pandangan serupa disampaikan pegiat Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Khudori. Ia menilai kinerja SugarCo perlu terus diperkuat, terutama setelah konsolidasi sejumlah pabrik gula dalam beberapa tahun terakhir.
Khudori juga menyoroti bahwa kontribusi lahan yang dikelola perusahaan masih terbatas dibandingkan dengan total kebutuhan bahan baku tebu nasional, sehingga ketergantungan terhadap pasokan dari petani masih cukup besar.
Di sisi lain, dinamika di tingkat petani turut mengalami perubahan, termasuk penerapan sistem beli putus sejak beberapa tahun terakhir. Skema ini memberikan fleksibilitas bagi petani untuk menjual tebu langsung ke pabrik dengan pembayaran di muka.
Kondisi tersebut mendorong persaingan antar pabrik gula, baik milik BUMN maupun swasta, dalam memperoleh pasokan tebu dari petani.
Baca Juga: Perkuat Industri Gula Nasional, SGN Buka Dialog Terbuka dengan Mitra Kerja
Baca Juga: Kebocoran Gula Rafinasi Dinilai Jadi Penyebab Kerugian Industri Gula Nasional
Baca Juga: Distribusi Gula Diawasi Ketat, Impor Etanol Wajib Rekomendasi Teknis
Pelaku industri menilai, ke depan diperlukan kebijakan yang mampu menciptakan kepastian usaha dan insentif ekonomi yang memadai agar keberlanjutan pasokan bahan baku tetap terjaga.
Sebelumnya, Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, menyampaikan bahwa tantangan utama industri gula nasional salah satunya terkait distribusi gula rafinasi yang perlu ditata lebih baik agar tidak mengganggu pasar konsumsi.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: