Kredit Foto: Prudential Indonesia
Momen Lebaran mendorong lonjakan pengeluaran rumah tangga, terutama di Solo dan sekitarnya, seiring tradisi mudik, silaturahmi, dan berbagi yang meningkatkan konsumsi dalam waktu singkat.
Puji (36), warga Solo, mencatat total pengeluaran keluarganya selama dua pekan libur Lebaran mencapai sekitar Rp10 juta. Anggaran tersebut digunakan untuk kebutuhan mudik, pembelian pakaian anak, konsumsi keluarga, hingga pengiriman hampers.
Kondisi serupa dialami banyak rumah tangga, di mana pengeluaran terkonsentrasi dalam periode singkat. Setelah aktivitas kembali normal, tekanan keuangan mulai dirasakan, terutama bagi keluarga yang belum memiliki perencanaan anggaran yang memadai.
Di sisi lain, peran perempuan sebagai pengelola keuangan rumah tangga dinilai semakin krusial. Secara regional, sekitar 50% pelaku UMKM di Jawa Tengah berasal dari kalangan perempuan, mencerminkan kontribusi signifikan dalam mengelola arus keuangan, baik di tingkat rumah tangga maupun usaha.
Namun, tantangan pengelolaan keuangan masih dihadapkan pada tingkat literasi yang relatif terbatas. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan Otoritas Jasa Keuangan, tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia berada di kisaran 66%.
Merespons kondisi tersebut, Prudential Indonesia bersama komunitas Supermom mendorong peningkatan literasi keuangan melalui edukasi pengelolaan keuangan keluarga.
Certified Financial Planner Prudential Indonesia, Ida Ayu Dwirani, menekankan pentingnya perencanaan keuangan dalam menjaga stabilitas finansial rumah tangga.
“Perencanaan dan evaluasi keuangan secara berkala penting agar pengeluaran lebih terkontrol dan keputusan finansial lebih tepat,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (17/4/2026).
Baca Juga: Investor Bisa Dapat Ganti Rugi Jika Aset Investasinya Hilang, Ini Syaratnya
Baca Juga: AI Ubah Cara Kerja Keuangan Perusahaan, Produktivitas Naik 82%
Baca Juga: Benarkah Pasar Keuangan Berbeda di Bulan Ramadan? Simak Faktanya
Untuk menjaga keseimbangan keuangan pasca Lebaran, skema anggaran 4/3/2/1 dinilai dapat menjadi acuan, yakni 40% untuk kebutuhan gaya hidup, 30% untuk kewajiban dan cicilan, 20% untuk tabungan serta dana darurat, dan 10% untuk kebutuhan sosial.
Pendekatan ini diharapkan membantu rumah tangga mengelola arus kas secara lebih terukur dan berkelanjutan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri