Kredit Foto: Dok. Kemenekraf
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Wamen Ekraf), Irene Umar, terkesan dengan transformasi Kampung Mrican di Sleman, Yogyakarta, yang berhasil mengubah bantaran Sungai Gajah Wong dari kawasan kumuh dan rawan banjir menjadi hunian asri dan layak huni.
Kawasan ini bahkan meraih penghargaan arsitektur internasional Ammodo Architecture Award 2025 untuk kategori Social Architecture.
Keberhasilan tersebut lahir dari sinergi kuat antara warga dan pemerintah dalam membangun lingkungan yang lebih sehat, produktif, dan berdaya saing.
Hal tersebut disampaikan Wamen Ekraf saat melakukan kunjungan kerja ke Kampung Mrican, pada Rabu (15/4/2026).
"Keberhasilan Kampung Mrican bukan sekadar soal estetika bangunan atau penghargaan arsitektur semata. Ini adalah bukti nyata kekuatan komunitas warga yang mampu mengubah wajah lingkungan menjadi lebih produktif dan berdaya saing melalui sentuhan ekonomi kreatif," ujarnya, dikutip dari siaran pers Kemen Ekraf, Jumat (17/4).
Wamen Ekraf disambut hangat oleh komunitas ibu-ibu di joglo, yang memperkenalkan inovasi Kelompok Wanita Tani (KWT) melalui budidaya sawi dan jamur di lahan terbatas. Program urban farming ini menjadi bukti nyata penguatan kedaulatan pangan sekaligus penggerak ekonomi berkelanjutan bagi warga setempat.
Kunjungan berlanjut menuju Microlibrary yang menjadi pusat literasi warga, kemudian beranjak meninjau Posko Pantau Banjir. Kehadiran kedua fasilitas ini menunjukkan keselarasan antara peningkatan kapasitas SDM dan kesiapsiagaan bencana di Kampung Mrican. Integrasi antara ruang edukasi dan sistem keamanan lingkungan ini menjadi pondasi penting dalam menciptakan kawasan wisata kreatif yang tidak hanya cerdas, tetapi juga aman bagi masyarakat.
Momen menarik terjadi saat Wamen Ekraf menyusuri Jembatan Sungai Pelang. Di area jembatan tersebut, Wamen Ekraf juga dibuat terpukau dengan inovasi Eco-Enzyme hasil olahan limbah kulit buah produksi warga. Produk yang telah dikemas apik ini memiliki manfaat multifungsi mulai dari obat luka, pembersih lantai dan baju, hingga pupuk dan bedak bubuk.
"Inovasi lingkungan seperti eco-enzyme ini adalah produk ekonomi kreatif masa depan. Mengubah sampah menjadi emas atau produk bernilai jual adalah esensi dari kreativitas yang berdampak langsung pada kantong warga dan kesehatan bumi," ucap Wamen Ekraf.
Kampung ini memiliki kekuatan utama pada kemandirian komunitasnya yang sangat aktif, mulai dari kelompok bank sampah, pembudidaya ikan, kelompok pembatik, hingga pegiat sungai. Sinergi antar-kelompok inilah yang menjadi nyawa bagi desa dalam menjaga kelestarian lingkungan sekaligus menggerakkan roda ekonomi lokal.
Baca Juga: RI–Arab Saudi Jajaki Kolaborasi Ekraf, dari World Expo hingga Ekosistem Haji-Umrah
Baca Juga: Kementerian Ekraf Buka Kerja Sama Strategis dengan AS, Dorong Talenta Kreatif Berbasis Budaya
"Kami sangat senang dengan kehadiran Ibu dan berharap berbagai komunitas di sini mendapat dukungan dari Ibu Wamen Ekraf agar kampung ini semakin mandiri serta menjadi pusat ekonomi kreatif yang tangguh, karena memang kekuatan utama kami ada di kekompakan komunitasnya," ujar Kepala Dukuh Pringwulung Sahid Fahrudin.
Kunjungan diakhiri di RTP Gatotkaca, sebuah ikon yang memadukan desain modern dan karakter lokal sebagai pusat interaksi budaya serta sosial warga. Wamen Ekraf berharap Kampung Mrican menjadi percontohan nasional bagi kekuatan komunitas dan berkomitmen untuk terus mendampingi pengembangan ekosistem ini agar semakin naik kelas serta menginspirasi wilayah lain di seluruh Indonesia.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Tag Terkait: