Trump Klaim AS Akan Ambil 'Debu Nuklir' Iran dengan Excavator
Kredit Foto: Instagram/Donald Trump
Pernyataan kontroversial kembali mencuat di tengah dinamika geopolitik global yang memanas. Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan klaim tidak lazim terkait rencana negaranya mengambil “debu nuklir” dari Iran, yang disebut akan dilakukan melalui kerja sama langsung dengan Teheran.
Dalam pernyataannya, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat akan memperoleh seluruh material tersebut, meski mengakui adanya risiko dalam prosesnya.
“Amerika Serikat akan mengambil seluruh debu nuklir itu,” kata Trump dikutip dari Anadolu.
Ia menambahkan bahwa langkah tersebut tetap akan dijalankan dengan berbagai metode yang tersedia, termasuk pendekatan langsung di lapangan.
“Kami akan melakukannya dengan masuk bersama Iran, menggunakan banyak excavator,” ujarnya.
Istilah “debu nuklir” yang disampaikan Trump merujuk pada material uranium yang disebut terkubur di bawah tanah. Material ini diduga berasal dari dampak operasi militer Amerika Serikat sebelumnya terhadap fasilitas nuklir Iran.
Pada Juni 2025, Amerika Serikat dilaporkan melancarkan Operation Midnight Hammer yang menargetkan sejumlah fasilitas nuklir Iran. Serangan menggunakan pembom B-2 tersebut disebut menghantam lokasi seperti Fordo dan Isfahan, sehingga uranium yang telah diperkaya diduga terkubur jauh di bawah tanah.
Trump juga mengklaim bahwa Iran telah menyetujui sejumlah poin penting dalam kesepakatan terbaru, termasuk penghentian pengayaan uranium serta pemberian akses bagi personel Amerika Serikat ke wilayahnya. Ia bahkan menyebut adanya persetujuan kerja sama fisik untuk menggali material nuklir dari kompleks bawah tanah di Isfahan.
Namun hingga kini, klaim tersebut belum mendapatkan konfirmasi resmi dari pemerintah Iran maupun verifikasi dari International Atomic Energy Agency (IAEA). Tidak ada dokumen tertulis yang mendukung pernyataan tersebut.
Sejumlah analis internasional pun meragukan validitas klaim tersebut, mengingat hubungan antara Amerika Serikat dan Iran selama ini diwarnai ketegangan panjang, terutama dalam isu nuklir.
Di sisi lain, Trump juga menyinggung perkembangan di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis dunia. Ia menyatakan kawasan tersebut telah kembali terbuka dan siap digunakan untuk aktivitas perdagangan global.
Menurutnya, Iran dengan bantuan Amerika Serikat telah membersihkan ranjau laut di kawasan tersebut sebagai bagian dari upaya pengamanan jalur pelayaran internasional.
Selain itu, Trump turut melontarkan kritik terhadap NATO. Ia mengklaim aliansi tersebut sempat menawarkan bantuan, namun ditolak.
“Saya tidak membutuhkan bantuan mereka lagi, karena mereka sama sekali tidak berguna saat kami membutuhkannya,” ujar Trump.
Baca Juga: Kompromi Iran-AS di Hormuz, Jalur Dibuka Harga Minyak Langsung Jatuh
Ia bahkan menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak bergantung pada aliansi tersebut.
Pernyataan tersebut mencerminkan sikap keras Trump terhadap sekutu tradisionalnya, sekaligus menambah kompleksitas situasi geopolitik global. Klaim mengenai potensi kerja sama antara AS dan Iran dalam isu nuklir pun dinilai tidak biasa, terutama tanpa kejelasan teknis maupun validasi independen.
Dengan demikian, pernyataan Trump membuka ruang spekulasi baru dalam konflik global, mencakup isu nuklir, keamanan energi, serta dinamika hubungan antarnegara yang semakin kompleks.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: