Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Citra Mistis Kemenyan Kini Bertransformasi Jadi Parfum Mewah

        Citra Mistis Kemenyan Kini Bertransformasi Jadi Parfum Mewah Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Inovasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) membuat citra kemenyan yang selama ini lekat dengan suasana mistis dan ritual tradisional, kini mulai bergeser menjadi produk gaya hidup kelas atas.

        BRIN mentransformasikan kemenyan menjadi produk parfum berkualitas tinggi bernama Styrax Perfume.

        Inovasi ini diperkenalkan secara luas dalam kegiatan BRIN Goes to Industry 3 di Gedung BJ Habibie, Jakarta, Kamis (16/4/2026), sebagai bukti nyata keberhasilan hilirisasi berbasis riset.

        Aswandi, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Botani Terapan BRIN mengungkapkan, selama ini Indonesia mengekspor ribuan ton kemenyan dalam bentuk bahan mentah (resin), dengan harga yang relatif murah, yakni Rp200 ribu per kilogram, untuk sekitar 40 negara.

        “Kita punya potensi Rp1 triliun per tahun yang belum diolah secara optimal di dalam negeri."

        "Dengan teknologi ekstraksi yang sebenarnya tidak terlalu mahal, kita bisa mengubah resin menjadi minyak atsiri (Styrax oil)."

        "Jika resin harganya Rp200 ribu per kilogram, harga minyak kemenyan di pasar bisa mencapai minimal Rp5 juta per kilogram.”

        “Perbandingannya sangat menguntungkan, hanya butuh sekitar 2 kilogram kemenyan untuk menghasilkan 1 liter minyak. Itu baru minyaknya."

        "Kalau kita olah lagi jadi parfum siap pakai, nilai tambah bisa mencapai 100 kali lipat per gramnya,” ungkap Aswandi dalam paparannya.

        Aswandi menerangkan, Styrax Perfume kini menjadi identitas wewangian asli Nusantara yang mampu bersaing di pasar global, dan dikembangkan dengan prinsip tiga pilar utama: first, better, dan different.

        Sebagai produk first (pertama), ini adalah parfum kemenyan alami pertama hasil riset anak negeri yang terdaftar dengan nomor paten S00202314472.

        “Kemenyan ini memberikan aroma yang sangat khas Indonesia, atau 'Nusantara banget'."

        "Ini adalah identitas kita."

        "Jika dibandingkan parfum bermerek luar negeri yang mahal, kualitas aroma dan ketahanannya tidak kalah."

        "Ini adalah produk yang different (berbeda) karena tidak akan ditemukan di parfum manapun di dunia selain dari Indonesia,” jelas Aswandi.

        Inovasi parfum ini bukan sekadar mengejar keuntungan komersial, melainkan juga mendukung program Astacita Presiden dalam hal hilirisasi dan pengembangan ekonomi dari desa.

        Dengan meningkatnya permintaan terhadap produk olahan kemenyan, ekosistem hutan kemenyan di ratusan ribu hektare kawasan Danau Toba dapat terjaga kelestariannya.

        Masyarakat lokal yang selama ini bergantung pada hasil hutan kemenyan akan mendapatkan kepastian ekonomi yang lebih baik.

        Pengembangan UMKM pengolah kemenyan di tingkat desa diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi baru, yang mengubah bahan mentah menjadi produk bernilai tinggi.

        “Melalui parfum ini, kita menjaga hutan, menjaga ekosistem, sekaligus membangun kesejahteraan masyarakat dari desa."

        Baca Juga: Pertamina Patra Niaga AFT Minangkabau Ubah limbah pertanian dan Peternakan di Sumbar jadi Bioetanol hingga Parfum

        "Bahan baku kita melimpah dan tidak ada masalah."

        "Sekarang saatnya kita membuktikan aroma kemenyan tidak seseram yang dibayangkan, melainkan sebuah kemewahan aromaterapi yang eksotik,” papar Aswandi. (*)

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Yaspen Martinus
        Editor: Yaspen Martinus

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: