- Home
- /
- Kabar Finansial
- /
- Bursa
OJK Sebut Porsi AUM Industri Pengelolaan Investasi RI hanya 4% dari PDB
Kredit Foto: OJK
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat asset under management (AUM) industri pengelolaan investasi mencapai Rp1.084 triliun atau tumbuh 3,97% dibandingkan posisi Desember 2025.
Kepala Departemen Pengawasan Pengelolaan Investasi dan Pasar Modal Regional OJK, M Maulana, mengatakan secara nominal peningkatan tersebut terlihat signifikan.
Namun, jika dilihat dari kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), ukuran industri pengelolaan investasi Indonesia dinilai masih relatif kecil dibandingkan negara-negara tetangga.
“Ternyata dari sisi PDB, kontribusinya baru sekitar 4%,” kata Maulana di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (20/4/2026).
Maulana mencontohkan, di Thailand nilai AUM industri investasi telah mencapai sekitar 30% dari PDB, sementara Malaysia bahkan mencapai 36%. Kondisi ini menunjukkan masih adanya ketimpangan sekaligus peluang besar bagi pertumbuhan industri pengelolaan investasi di Indonesia.
“Masih banyak ketimpangan, artinya masih banyak yang bisa dikejar,” ujarnya.
Dari sisi jumlah investor, perkembangan industri reksa dana juga menunjukkan tren positif. Jumlah investor reksa dana kini mencapai 23,5 juta investor, meningkat dari 19,2 juta pada Desember tahun lalu atau tumbuh sekitar 8,14% secara tahunan.
Menariknya, sekitar 54% investor reksa dana berasal dari kelompok usia di bawah 30 tahun. Dominasi investor muda ini menjadi sinyal positif karena berasal dari kelompok usia produktif yang berpotensi menjadi basis pertumbuhan pasar keuangan jangka panjang.
Ia menyebut, berdasarkan data Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk Indonesia mencapai sekitar 287 juta jiwa, dengan 196 juta di antaranya berada pada usia produktif 15–64 tahun. Jika dibandingkan dengan jumlah investor saat ini, penetrasi investasi dinilai masih sangat rendah.
“Artinya, jika dibandingkan dengan jumlah investor saat ini yang sekitar 23 juta, masih terdapat peluang besar untuk mendorong kelompok usia produktif menjadi investor,” jelasnya.
Baca Juga: BEI Ungkap Lonjakan Reksa Dana, AUM Tembus Rp699 Triliun
Baca Juga: OJK dan BEI Gelar 'Road to Pekan Reksa Dana 2026', Bibit.id Gencarkan Program SIP
Di sisi lain, Maulana juga menyoroti masih lebarnya kesenjangan antara tingkat literasi dan inklusi pasar modal. Tingkat literasi pasar modal tercatat sekitar 17%, sementara tingkat inklusinya baru 1,3%.
“Artinya ini menjadi pekerjaan rumah besar. Kita perlu mendorong masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal, termasuk melalui reksa dana, agar tingkat inklusi meningkat,” tegasnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: