Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Wamen Nezar Peringatkan Risiko AI, Daya Kritis Bisa Menurun

        Wamen Nezar Peringatkan Risiko AI, Daya Kritis Bisa Menurun Kredit Foto: Kemkomdigi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria memperingatkan penggunaan kecerdasan buatan (AI) yang semakin masif, berisiko menurunkan daya kritis manusia.

        Pemerintah menilai, di tengah pesatnya adopsi teknologi, kemampuan berpikir analitis tidak boleh tergantikan oleh kemudahan yang ditawarkan AI.

        Nezar menyoroti mulai munculnya ketergantungan terhadap AI, terutama di lingkungan pendidikan dan kalangan profesional.

        “Jangan sampai kita kehilangan daya kritis karena semua diserahkan kepada AI."

        "Itu sudah mulai terjadi di dunia pendidikan,” ujar Nezar dalam Workshop AI Talent Factory 2 di Universitas Gadjah Mada, Jumat (17/4/2026).

        Menurutnya, pengembangan talenta digital tidak bisa hanya berfokus pada aspek teknis semata.

        Talenta masa depan harus mampu memahami cara kerja AI, sekaligus mengendalikan penggunaannya secara bijak.

        “Desain AI harus human-centric, agar teknologi yang dikembangkan memberi dampak positif pada manusia."

        "Dalam pengambilan keputusan, AI harus tetap menempatkan manusia sebagai pusat melalui pendekatan human in the loop,” tuturnya.,

        Nezar juga menyoroti kecenderungan penggunaan AI yang serba instan.

        Jika tidak diimbangi dengan kesadaran kritis, hal ini berpotensi melemahkan kemampuan analisis dan penilaian etis.

        Ia menegaskan, setiap hasil yang dihasilkan AI tetap harus dievaluasi secara kritis oleh manusia, dan kemampuan mengambil keputusan tidak boleh sepenuhnya dialihkan ke mesin.

        Di sisi lain, pemerintah tetap mendorong pemanfaatan AI untuk menjawab berbagai persoalan strategis nasional.

        Teknologi ini dinilai memiliki potensi besar, jika diarahkan untuk menyelesaikan masalah nyata di masyarakat.

        “Ambisi strategis diperlukan agar kita tidak hanya mengadopsi teknologi, tetapi mampu menggunakannya untuk menyelesaikan masalah nyata di sektor-sektor prioritas,” ujarnya.

        Sektor seperti pangan, energi, kesehatan, hingga maritim, disebut sebagai area prioritas pemanfaatan AI.

        Pendekatan berbasis solusi dinilai penting, agar teknologi memberikan dampak langsung bagi masyarakat.

        Baca Juga: AI Ubah Fungsi Keuangan Perusahaan, Wamen Nezar Patria: Bukan Sekadar Alat Otomasi

        Workshop AI Talent Factory 2 diikuti oleh 98 mahasiswa dan 28 dosen dari Universitas Gadjah Mada, Universitas Brawijaya, dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

        Program ini diarahkan untuk mencetak talenta digital yang tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga mampu memahami dan mengendalikan dampak penggunaan AI secara bertanggung jawab. (*)

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
        Editor: Yaspen Martinus

        Bagikan Artikel: