DeepSeek Jadi Sorotan, Amerika Serikat Tuduh China Curi Teknologi AI
Kredit Foto: Pexels/Matheus Bertelli
Amerika Serikat diam-diam meluncurkan kampanye diplomatik global untuk menyoroti dugaan upaya pencurian kekayaan intelektual kecerdasan buatan (AI) oleh China. Salah satu yang disorot adalah startup akal imitasi dari DeepSeek.
Dikutip dari Reuters, U.S. State Department mengirimkan kabel diplomatik kepada berbagai perwakilan luar negeri hingga diplomat di mana mereka menyampaikan kekhawatiran kepada mitra internasional terkait ekstraksi dan distilasi model akal imitasi milik Amerika Serikat. Dokumen tersebut juga menyebut bahwa pesan serupa telah dikirim ke Beijing.
Baca Juga: Beijing Isyaratkan Kapal Induk Nuklir Baru, Perkuat Ambisi di Laut China Selatan
Distilasi akal imitasi merupakan teknik melatih model kecil menggunakan output dari model besar untuk menekan biaya pengembangan. Amerika Serikat menilai praktik ini dapat digunakan untuk meniru teknologi canggih tanpa izin.
"Model akal imitasi yang dikembangkan dari distilasi tidak sah memungkinkan pihak asing merilis produk dengan performa serupa, namun dengan biaya jauh lebih murah," tulis dokumen tersebut.
Amerika Serikat juga menuduh bahwa proses tersebut dapat menghapus protokol keamanan dan merusak prinsip netralitas serta keakuratan model akal imitasi .
China sendiri membantah tuduhan tersebut. Namun OpenAI sebelumnya memperingatkan bahwa perusahaan negara tersebut berupaya meniru model akal imitasi mereka untuk kepentingan pelatihan.
"Tuduhan bahwa entitas kami mencuri kekayaan intelektual akal imitasi tidak berdasar dan merupakan serangan terhadap perkembangan teknologi dari China," kata Kedutaan Besar China di Washington.
DeepSeek sendiri dalam hal ini terus memperkuat posisinya dengan merilis model terbaru V4 yang dioptimalkan untuk chip Huawei, menunjukkan kemandirian teknologi yang semakin meningkat. Perusahaan tersebut menyatakan bahwa modelnya dikembangkan dari data publik dan tidak secara sengaja menggunakan data sintetis dari OpenAI.
Meski populer, beberapa negara telah melarang penggunaan akal imitasi tersebut dalam institusi pemerintah karena kekhawatiran terkait privasi data. Isu ini menjadi bagian dari persaingan panjang antara dua kekuatan besar dalam bidang teknologi, khususnya akal imitasi , yang kini semakin strategis bagi keamanan dan ekonomi global.
Dengan meningkatnya ketegangan ini, industri teknologi global berpotensi menghadapi fragmentasi lebih lanjut, di mana negara-negara harus memilih antara ekosistem teknologi yang berbeda.
Baca Juga: Jika Ingin Akhiri Perang, Trump Sarankan Iran Hubungi Segera Amerika Serikat
Langkah Amerika Serikat juga berpotensi meningkatkan ketegangan teknologi dengan China. Hal ini terutama menjelang rencana pertemuan antara Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dan Presiden China, Xi Jinping di Beijing.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar