Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        UMKM Indonesia Capai 64 Juta, Pemerintah Serukan Gerakan Gotong-Royong Digital

        UMKM Indonesia Capai 64 Juta, Pemerintah Serukan Gerakan Gotong-Royong Digital Kredit Foto: MitMe
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Pemerintah menyerukan kolaborasi nasional untuk mempercepat digitalisasi sekitar 64 juta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia. Langkah ini dinilai mendesak di tengah tingginya penetrasi internet nasional yang telah mencapai 77%-80%, namun belum diikuti peningkatan literasi digital pelaku usaha secara merata.

        Seruan tersebut disampaikan Staf Khusus Presiden Bidang UMKM dan Digitalisasi, Tiar N Karbala, dalam dialog strategis pada MitMe Fest 2026 di M Bloc Space, Jakarta Selatan, Sabtu (26/4/2026).

        Menurut Tiar, tantangan utama digitalisasi UMKM bukan lagi sekadar infrastruktur, melainkan kesenjangan kemampuan memanfaatkan teknologi. Kondisi itu berisiko makin melebar seiring pesatnya adopsi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

        “Pemerintah tidak bisa berdiri sendiri untuk mengurusi masalah yang sebegitu banyak dari Sabang sampai Merauke. Harus ada semangat gotong-royong, program-program ini tidak bisa dilakukan sendiri, melainkan harus berkolaborasi secara kolektif dengan talenta muda, komunitas, hingga pihak swasta,” ujar Tiar.

        Ia menilai tanpa intervensi kolektif, pemanfaatan AI dan teknologi digital justru lebih mudah diakses perusahaan besar yang memiliki modal, SDM, dan sistem lebih matang. Sementara pelaku usaha mikro berpotensi tertinggal karena keterbatasan pengetahuan dan akses pendampingan.

        Secara ekonomi, UMKM merupakan tulang punggung perekonomian nasional karena menyerap tenaga kerja besar dan menopang konsumsi domestik. Karena itu, peningkatan produktivitas sektor ini dipandang berpengaruh langsung terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

        Forum MitMe Fest 2026 menyoroti kebutuhan UMKM terhadap pendampingan praktis, mulai dari asesmen level usaha, strategi pemasaran digital, sertifikasi halal, hingga adopsi teknologi operasional.

        Founder MitMe, Adhitya Noviardi, mengatakan pelaku UMKM membutuhkan lebih dari sekadar ruang promosi.

        “UMKM tidak hanya butuh panggung, tetapi juga arah dan akses. MitMe Fest dirancang untuk menjawab itu, menghubungkan kebutuhan dengan solusi secara langsung,” kata Adhitya, dalam keterangan resmi, Jakarta, Senin (27/4/2026). 

        Kegiatan tersebut juga didukung sejumlah mitra lintas sektor seperti Bank BNI, Bank Mandiri, Jamkrindo, InJourney Airports, JNE, dan Waringin Hospitality. Kolaborasi ini mencerminkan model penguatan UMKM yang menghubungkan pembiayaan, distribusi, pemasaran, dan pengembangan kapasitas usaha.

        Baca Juga: MitMe Gandeng BNI hingga Mandiri, UMKM Digenjot Naik Kelas

        Baca Juga: AI Bukan Sekadar Tren: Senjata Baru UMKM Indonesia

        Baca Juga: UMKM Jadi Tulang Punggung Ekonomi, Tapi Akses Pembiayaan Masih Seret

        Pemerintah menilai model sinergi seperti itu perlu diperluas agar transformasi digital UMKM tidak terpusat di kota besar. Keterlibatan komunitas lokal, talenta muda, dan sektor swasta dianggap penting untuk menjangkau pelaku usaha hingga daerah.

        Pasca acara, MitMe menyatakan akan melanjutkan program pendampingan melalui aplikasi digital dan edukasi bisnis berbasis media sosial. Upaya tersebut diharapkan menjaga kesinambungan transformasi UMKM di luar momentum festival.

        Dengan besarnya jumlah pelaku usaha nasional, percepatan digitalisasi UMKM dipandang sebagai salah satu jalur strategis untuk meningkatkan daya saing ekonomi domestik, memperluas pasar, dan menciptakan pertumbuhan yang lebih inklusif.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: