Kondisi Industri Baja Indonesia Terjepit, Krakatau Steel Siapkan Strategi Reborn dan Proyek Baru
Kredit Foto: Annisa Nurfitri
PT Krakatau Steel (Persero) Tbk memaparkan tekanan yang masih membayangi industri baja nasional, mulai dari ketergantungan impor, utilisasi pabrik yang rendah, gejolak geopolitik global, hingga persaingan harga dari produsen luar negeri. Di tengah kondisi itu, perseroan menyiapkan transformasi internal dan proyek hilirisasi untuk memperkuat daya saing.
Direktur Utama Krakatau Steel Akbar Djohan mengatakan industri baja merupakan fondasi utama pembangunan ekonomi dan infrastruktur nasional. Karena itu, kekuatan industri baja domestik dinilai penting untuk menopang agenda pertumbuhan ekonomi Indonesia.
“Tanpa kekuatan industri baja dalam negeri, program-program pemerintah akan menemui kendala baik dari sisi ketersediaan, daya saing, maupun competitiveness,” ujar Akbar dalam acara Coffee Morning with CEO di Jakarta, Senin (27/4/2026).
Menurut dia, kondisi industri baja nasional tidak lepas dari dampak geopolitik global, gangguan rantai pasok, serta kebijakan perdagangan internasional yang berubah cepat.
Akbar menyebut kapasitas produksi baja nasional saat ini sekitar 18 juta ton per tahun, sementara kebutuhan domestik berada di kisaran 23 juta hingga 25 juta ton per tahun. Selisih kebutuhan tersebut masih diisi impor.
Ia menambahkan, utilisasi industri baja nasional juga masih di bawah 60% dari kapasitas terpasang. Artinya, sebagian fasilitas produksi belum beroperasi optimal.
“Kita tidak anti-impor. Tetapi harus ada keseimbangan antara kebutuhan dalam negeri dan kemampuan produksi nasional,” katanya.
Baca Juga: Krakatau Steel Tancap Gas 2026, Target Produksi Naik dan Impor Dipangkas
Baca Juga: Indonesia Perkuat Posisi Global dengan Pertumbuhan Konsisten Industri Baja
Akbar juga menyoroti persaingan global, terutama dari China yang memiliki kapasitas produksi lebih dari 1,3 miliar ton per tahun dan memasok lebih dari separuh kebutuhan baja dunia.
“Harga yang dikirim dari China sudah di bawah harga produksi di dalam negeri. How to compete? Tidak bisa,” ujarnya.
Selain itu, biaya energi di Indonesia disebut lebih mahal dibanding negara pesaing. Harga gas industri di China sekitar US$2-US$3 per mmbtu, sedangkan di Indonesia bisa mencapai US$6 hingga lebih tinggi untuk skema non-subsidi.
Krakatau Steel Cetak Laba, Lanjutkan Restrukturisasi
Di tengah tekanan industri, Krakatau Steel melaporkan kinerja positif sepanjang 2025 dengan laba bersih sekitar Rp5,6 triliun. Pada kuartal I-2026, perseroan juga mencatat laba bersih sekitar US$4,6 juta.
Akbar mengatakan perbaikan kinerja ditopang transformasi internal, efisiensi operasional, restrukturisasi keuangan, serta dukungan pendanaan.
Ia mengungkapkan Danantara telah menginjeksi modal sekitar Rp5 triliun pada Desember 2025 yang difokuskan untuk pembelian bahan baku.
Baca Juga: Kinerja Mulai Pulih, Krakatau Steel (KRAS) Cetak Laba USD4,6 Juta di QI 2026
Baca Juga: Krakatau Steel Panaskan Mesin Pertumbuhan, Akbar Djohan Targetkan Laba US$129 Juta di 2026
“Kami ingin perbaikan ini fundamental, bukan kosmetik,” katanya.
Selain itu, beberapa bank swasta dan asing disebut memberikan restrukturisasi melalui pemotongan kewajiban pokok, bunga, dan denda hingga 80%.
Fokus Hilirisasi dan Kemandirian Bahan Baku
Ke depan, Krakatau Steel menyiapkan proyek hilirisasi untuk mengurangi ketergantungan impor bahan baku. Perseroan menargetkan pembangunan industri carbon steel dan stainless steel.
Akbar menyebut proyek tersebut dijadwalkan groundbreaking pada 29 April 2026 di Cilacap. Untuk carbon steel, pengembangan akan dilakukan di Cilegon dengan memanfaatkan iron ore domestik. Sementara stainless steel akan dikembangkan dekat sumber bahan baku nikel.
Baca Juga: Perkuat Industri, Krakatau Posco Hadirkan Baja Tahan Cuaca dan Gempa
Baca Juga: Krakatau POSCO Raih PROPER Hijau Tiga Tahun Berturut-turut
“Ketergantungan impor sangat tinggi dan itu bisa menghambat industri. Karena itu harus segera dibangun industri baja yang lebih mandiri,” ujarnya.
Krakatau Steel juga menargetkan menjadi model BUMN sehat dan kompetitif, sekaligus memperkuat kontribusi industri baja terhadap penyerapan tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: