Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Tak Hanya di Bekasi Timur, Ini Rentetan Kasus Kecelakaan yang Melibatkan Taxi Besutan VinFast

        Tak Hanya di Bekasi Timur, Ini Rentetan Kasus Kecelakaan yang Melibatkan Taxi Besutan VinFast Kredit Foto: Ist
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Manajemen penyedia jasa taksi listrik besutan VinFast, Green SM Indonesia secara resmi mengakui bahwa salah satu kendaraan operasionalnya adalah mobil yang memicu rentetan tragedi tabrakan kereta api di dekat Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4) malam. Insiden beruntun yang melibatkan Kereta Rel Listrik (KRL) dan KA Jarak Jauh Argo Bromo Anggrek tersebut telah menelan 15 korban jiwa dan melukai puluhan lainnya.

        Tragedi maut ini bermula ketika taksi listrik Green SM tersangkut di perlintasan sebidang. Kondisi tersebut memaksa KRL yang sedang melaju untuk melakukan pengereman darurat dan berhenti di lintasan. Nahas, dari arah yang sama, KA Argo Bromo Anggrek gagal menghentikan lajunya tepat waktu sehingga menghantam keras bagian belakang KRL yang tengah dipadati penumpang.

        Keterlibatan taksi Green SM dalam kecelakaan fatal ini kian memperpanjang daftar hitam kejadian yang berulang.

        Akun Youtube Fusebox menyebut, sejak armada yang awalnya bernama XANH SM ini diluncurkan pada Desember 2024 sebagai strategi pabrikan Vietnam, VinFast, untuk memperkuat pasar Electric Vehicle (EV) di Indonesia, operasionalnya justru diwarnai serangkaian kecelakaan absurd.

        Sebelum tragedi di Bekasi Timur, taksi serupa dilaporkan kerap mengalami insiden tak wajar, mulai dari menerobos palang perlintasan kereta di Jakarta, menabrak pedagang makanan di pinggir jalan, hingga melesat kencang saat mundur pelan dan menabrak restoran.

        Menghadapi rentetan insiden ini, mayoritas sopir selalu berdalih bahwa mereka "kehilangan kendali" atas kendaraannya.

        Menurut Fusebox, klaim hilangnya kendali ini diduga kuat bukan karena kualitas mobil yang buruk, melainkan akibat spesifikasi teknis VinFast VF yang gagal dikuasai oleh para pengemudi.

        Mobil listrik yang digunakan sebagai armada Green SM tersebut dibekali torsi maksimal sebesar 242 Nm, daya tarik yang setara dengan mobil bensin berkapasitas 2.000 hingga 2.500 cc. Tantangan utamanya terletak pada karakteristik mesin listrik itu sendiri

        Berbeda dengan mobil bensin yang butuh putaran mesin tinggi untuk mencapai tenaga maksimal, motor listrik menyalurkan torsi raksasa secara instan dari titik diam (0 RPM). Begitu pedal gas diinjak, mobil langsung memberikan dorongan maksimal secara tiba-tiba.

        Kondisi ini sangat bertolak belakang dengan kebiasaan sopir taksi yang puluhan tahun mengendarai mobil berbahan bakar bensin. Sebagai perbandingan, armada taksi konvensional seperti Toyota Transmover hanya dibekali torsi sekitar 121 Nm, dan tenaga itu baru tercapai di putaran mesin 4.200 RPM.

        Tragedi di Bekasi Timur ini dinilai sebagai puncak dari transisi ekstrem para pengemudi taksi ke kendaraan bertorsi besar tanpa pembekalan yang memadai.

        Fitur unggulan berupa torsi besar pada mobil EV sejatinya tidak menjadi masalah, asalkan perusahaan transportasi menerapkan penyesuaian gaya berkendara dan standar pelatihan operasional yang jauh lebih ketat.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Ferry Hidayat

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: