Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Penjualan Mobil hingga CPO Naik, Bisnis Non-Tambang Jadi Penopang Astra di Kuartal I 2026

        Penjualan Mobil hingga CPO Naik, Bisnis Non-Tambang Jadi Penopang Astra di Kuartal I 2026 Kredit Foto: Astra Internasional
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Pelemahan bisnis tambang dan alat berat pada kuartal I 2026 belum sepenuhnya menggoyahkan kinerja PT Astra International Tbk. Di tengah tekanan sektor komoditas, lini usaha non-tambang justru tampil sebagai penopang utama yang menjaga profitabilitas Grup tetap stabil pada awal tahun. D

        Pada kuartal I 2026, Astra membukukan laba bersih sebesar Rp5,85 triliun, turun 16% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunan ini terutama dipicu melemahnya kinerja divisi Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi, dan Energi yang laba bersihnya anjlok 79% menjadi Rp408 miliar.

        Namun tekanan tersebut berhasil diredam oleh pertumbuhan di hampir seluruh lini usaha non-komoditas, mulai dari otomotif, jasa keuangan, agribisnis, infrastruktur, teknologi informasi, hingga properti.

        Kontributor terbesar tetap datang dari divisi otomotif dan mobilitas yang mencatat laba bersih Rp2,37 triliun, naik 4% dibandingkan kuartal I 2025. Kinerja ini ditopang oleh bisnis mobilitas, logistik, dan komponen, meski pasar otomotif domestik belum sepenuhnya pulih. Astra masih menghadapi tekanan di segmen mass market kendaraan roda empat, namun bisnis pendukung seperti komponen dan mobil bekas memberi bantalan yang cukup kuat.

        Di lini roda empat, penjualan mobil nasional naik 2% menjadi 209.000 unit pada kuartal I 2026, meski pangsa pasar Astra turun menjadi 49% akibat persaingan yang makin ketat. Sementara di roda dua, penjualan sepeda motor nasional turun 4% menjadi 1,6 juta unit, namun Astra Honda Motor tetap mempertahankan dominasi dengan pangsa pasar 78%.

        Di luar penjualan kendaraan baru, PT Astra Otoparts Tbk mencatat kenaikan laba bersih 10% menjadi Rp447 miliar, sementara OLXmobbi membukukan pertumbuhan penjualan mobil bekas 9% menjadi 8.200 unit.

        Pilar kedua penopang Astra datang dari jasa keuangan. Divisi ini mencatat laba bersih Rp2,27 triliun, tumbuh 6% dibandingkan tahun lalu. Pertumbuhan terutama ditopang peningkatan pembiayaan konsumen seiring naiknya nilai portofolio pembiayaan.

        Nilai pembiayaan baru bisnis pembiayaan konsumen Grup naik 5% menjadi Rp32 triliun, mencerminkan permintaan kredit kendaraan dan pembiayaan ritel yang tetap terjaga di tengah perlambatan sektor komoditas.

        Baca Juga: Astra Bukukan Laba Rp5,85 Triliun di Kuartal I-2026

        Kontribusi pembiayaan mobil meningkat 5% menjadi Rp609 miliar, sementara pembiayaan sepeda motor melalui Federal International Finance naik 3% menjadi Rp1,2 triliun. Di sisi lain, bisnis asuransi juga ikut menopang pertumbuhan, dengan laba PT Asuransi Astra Buana naik 7% menjadi Rp404 miliar dan laba PT Asuransi Jiwa Astra melonjak 47% menjadi Rp44 miliar.

        Selain otomotif dan jasa keuangan, bisnis non-tambang lain juga menunjukkan penguatan. Divisi agribisnis membukukan laba bersih Rp298 miliar, naik 35%, ditopang kenaikan penjualan CPO dan produk turunannya sebesar 6% menjadi 457.000 ton.

        Divisi infrastruktur mencatat pertumbuhan laba 32% menjadi Rp343 miliar, didorong kenaikan tarif tol dan volume lalu lintas. Sementara divisi teknologi informasi tumbuh 47% menjadi Rp53 miliar, dan divisi properti melonjak 145% menjadi Rp115 miliar berkat kontribusi aset gudang industri yang baru diakuisisi.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Amry Nur Hidayat

        Bagikan Artikel: