Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Amerika Serikat dan Filipina Uji Rudal Anti-Kapal di Laut China Selatan

        Amerika Serikat dan Filipina Uji Rudal Anti-Kapal di Laut China Selatan Kredit Foto: United States Department of War
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Filipina dan Amerika Serikat memamerkan sistem rudal anti-kapal atau Navy-Marine Expeditionary Ship Interdiction System (NMESIS) dalam latihan militer tahunan dalam sebuah wilayah yang dekat dengan Taiwan. Hal ini menyusul meningkatnya ketegangan di Laut China Selatan.

        Sersan Staf Angkatan Darat Amerika Serikat, Darren Gibbs mengatakan bahwa pihaknya baru-baru ini menggelar latihan bersama dengan Filipina di Provinsi Batanes. Wilayah tersebut merupakan satu titik utama persaingan kekuatan dari Amerika Serikatdan China di Asia-Pasifik.

        Baca Juga: Cetak Rekor! 24,8 Juta Penumpang Naik Kereta Api Saat Hari Buruh di China

        “Latihan di Batanes memberi kami lingkungan yang berbeda dari biasanya, sehingga memberikan peluang unik untuk menggunakan sistem ini dan melatih kemampuan kami,” ujarnya.

        Adapun ia menjelaskan terkait dengan penggunaan sistem rudal anti-kapal. Teknologi tersebut dirancang untuk dioperasikan dari jarak jauh tanpa awak di dalam kendaraan.

        “Tujuan sistem ini adalah sepenuhnya otonom, sehingga tidak memerlukan pengemudi atau penumpang di dalamnya. Kami hanya memberi tahu ke mana harus pergi dan memprogram apa yang harus dilakukan,” kata Gibbs.

        Navy-Marine Expeditionary Ship Interdiction System merupakan rudal anti-kapal berbasis darat yang memiliki mobilitas tinggi dan mampu menargetkan kapal di permukaan laut hingga jarak sekitar 185 kilometer. Sistem ini diterbangkan menggunakan pesawat angkut militer C-130 dan ditempatkan di Basco.

        Direktur Latihan Filipina, Francisco Lorenzo mengatakan pengerahan sistem tersebut bertujuan untuk menguji kelayakan operasional di lokasi terpencil seperti provinsi dari Batanes.

        “Ini bagian dari latihan untuk menguji kelayakan atau melatih pengerahan sistem tersebut jika diperlukan,” ujarnya.

        Ia menegaskan sistem tersebut tidak digunakan dalam latihan tembak langsung, melainkan hanya untuk simulasi dan akan ditarik kembali setelah latihan selesai.

        Adapun Filipina dan Amerika Serikat tengah menggelar latihan militer tahunan bernama Balikatan. Ia diikuti lebih dari 17.000 personel, termasuk sekitar 10.000 tentara dari Amerika Serikat. Tak hanya di Batanes, latihan serangan maritim juga dilakukan di Itbayat.

        China sendiri menyoroti latihan dan pengerahan sistem persenjataan dari Amerika Serikat ke Filipina. Ia secara rutin menilai langkah tersebut meningkatkan ketegangan regional.

        Baca Juga: Presiden Taiwan Kejutkan China Lewat Kunjungannya ke Eswatini

        Dalam beberapa waktu terakhir, aktivitas militer negara ini juga meningkat dalam wilayah sekitar dari Taiwan dan Laut China Selatan. Hal ini ditandai dengan pengiriman kapal perang dan kapal induk ke wilayah tersebut.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: